Friday, 01 August 2014
Home Baitullah Menziarahi para Maulana dan Sultan: Masjid Agung dan Makam Banten
Menziarahi para Maulana dan Sultan: Masjid Agung dan Makam Banten PDF Print E-mail
Thursday, 16 August 2012 16:48

Lebih dari 80 situs kepurbakalaan yang bisa dikunjungi di kota tua itu. Termasuk masjid dan makam para maulana dan sultan. Shalat dan ziarah ke sana juga untuk mengenang jasa Sultan Hasanuddin dalam syiar Islam.

 



www.majalah-alkisah.comJika ingin berkunjung ke Masjid Agung Banten, hanya perlu menempuh perjalanan 10 kilometer ke arah utara kota Serang, ibu kota Provinsi Banten. Dan itu hanya sekitar 15 menit. Dengan akses jalan tol, peziarah dari Jakarta cuma memerlukan waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di tujuan.

Secara umum, ada dua jalan untuk mencapai lokasi Masjid Agung Banten, yang dibangun pada 1526 di atas lahan satu kilometer persegi. Yakni, dari arah Kecamatan Keramat Watu dan dari pusat kota Serang sendiri. Jika melewati Jalan Keramat Watu, kita akan menyaksikan beberapa peninggalan Kesultanan Banten, seperti saluran air minum kota, danau buatan Tasik Ardi, Masjid Pecinan Tinggi, dan lain-lain.

Sementara, jika perjalanan ditempuh dari kota Serang, di antaranya akan melalui jalan yang bisa menuju ke Makam Maulana Yusuf, Keraton Kaibon, Makam Pangeran Mas, Masjid Kesunyatan, dan sebagainya.

Ziarah ke Makam Sultan Maulana Hasanuddin dan Masjid Agung Banten, biasanya, dilakukan sebagai puncak sebuah rangkaian ziarah di kawasan yang lazim disebut  “Banten Lama”. Sebab, di seputar daerah ini terdapat banyak tempat yang dipercaya sebagai lokasi “keramat”. Di antaranya, Makam Syekh Mansyuruddin Caringin, Kompleks Batu Qur’an Cibulakan, Makam Syekh Asnawi Labuan, Makam Sultan Abdul Mufakkir Machmud Abdul Kadir Kenari, dan lain-lain.

Letak Masjid Agung Banten sendiri, sebenarnyalah, merupakan kesatuan integral kompleks kesultanan Islam Banten. Dan, sebagaimana umumnya tata letak bangunan kerajaan di Jawa, kesultanan di Banten pun demikian. Misalnya, di tengahnya terdapat alun-alun, yaitu tempat berkumpulnya rakyat, untuk apel para prajurit, juga sebagai ajang pertunjukan kesenian. Di sudut lainnya terdapat pasar, bangunan pusat pemerintahan, dan tempat peribadahan.

Sebelum menuju masjid, sebaiknya lebih dahulu melihat salah satu peninggalan unik, yaitu lokasi Watu Singa Yaksa. Yang satu, tempatnya di selatan alun-alun; dan satunya lagi, di utara alun-alun. Bentuknya ya… batu biasa saja! Sekarang keadaannya bahkan sudah pecah-pecah. Namun, yang di selatan alun-alun punya riwayat penting, karena di atas batu itulah sultan biasanya melakukan penobatan atau menyampaikan pengumuman penting.

Setibanya di kompleks Masjid Agung Banten, pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar 200 meter, untuk menuju ke masjid dan makam. Jalan selebar tiga meteran itu tidak boleh dilalui kendaraan umum. Di kiri dan kanannya berjajar berbagai kios cenderamata khas Banten. Mulai dari makanan, buah-buahan, sampai hasil kerajinan tangan. Modelnya mirip dengan gaya “Pasar Seng” di Makkah, yang sering dikunjungi peziarah Indonesia saat ke Tanah Suci; atau seperti model pasar yang ada di sekitar Masjid Sunan Ampel di Surabaya.

Sebelum menelusuri jalan ini, buat yang berminat pada hal-hal kesejarahan, bisa lebih dahulu mengunjungi museum yang terletak di timur alun-alun. Museum ini merupakan gedung baru yang dipergunakan untuk menyimpan benda-benda temuan bersejarah. Sementara di sudut selatan alun-alun, bisa disaksikan meriam, yang terbuat dari tembaga. Warga setempat memberinya nama “Meriam Ki Amuk”.

Kompleks Masjid Agung Banten sendiri dibatasi oleh pagar halaman yang mengelilinginya. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan penting, di antaranya bangunan menara setinggi 23 meter yang berdiri kokoh.

Alkisah, menara ini dibangun tidak secara bersamaan dengan pembangunan masjid. Menurut sebuah versi, keputusan membangun menara ini dilakukan setelah salah seorang ulama mendapat mimpi untuk membangunnya. Kisah lain mengatakan, menara tersebut dibangun atas perintah langsung Sultan Maulana Yusuf.

Jangan lewatkan kesempatan untuk naik ke atas menara ini. Dari situ bisa terlihat keindahan sekitar kompleks Banten sampai ke pantai. Lapangnya pandangan saat berada di atas menara ini memperkuat keyakinan, bahwa selain sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan, menara ini juga berfungsi sebagai menara pengintai: untuk memantau musuh, baik dari darat maupun lautan.

Atap Masjid Agung Banten ini tampak khas, berbeda dengan atap kebanyakan masjid lainnya di Jawa: tidak berkubah! Yang kelihatan hanyalah atap lima tingkat berbentuk trapesium yang mengecil ke atas. Tingkat lima itu sendiri mungkin melambangkan rukun Islam yang lima.

Memasuki masjid, yang terletak di barat alun-alun, bisa disaksikan para peziarah melakukan berbagai aktivfitas keagamaan. Termasuk sebagian dari mereka yang bermalam di sana untuk mengharap barakah. Sebelum memasuki masjid, pengunjung “digiring” untuk terlebih dahulu berwudhu, di kolam yang terletak di sebelah timur masjid. Selain tempat ini, di masjid juga terdapat bak-bak panjang penampungan air, yang masing-masingnya dilengkapi tiga buah keran air.

Sentral para Peziarah


www.majalah-alkisah.comSelain bangunan utama, berukuran 24.30 m x 16.50 m, yang dipergunakan untuk shalat dan aktivitas ritual lainnya (dzikir, doa, dan mengaji), di dalam masjid terdapat Makam Sultan Maulana Hasanuddin – sentral para peziarah. Ada beberapa makam di serambi selatan. Di  pemakaman utara, dari kanan ke kiri, adalah makam para sultan yang utama,  seperti Sultan Haji (Abunnasr Abdul Qohar), Sultan Abdul Fadhal dan permaisuri, permaisuri Sultan Hasanuddin, Sultan Mohammad Nasruddin Ratu ing Banten, dan Sultan Ageng Tirtayasa (Abdul Fathi Abdul Fattah).

Makam-makam inilah yang sesungguhnya menjadi daya tarik utama para peziarah. Makamnya diberi kelambu. Tidak jauh dari makam Sultan Maulana Hasanuddin, terdapat pula sebuah Al-Quran yang ditulis dengan tangan. Sultan Banten ini sengaja dimakamkan di halaman masjid tersebut karena pada masa pemerintahannyalah masjid tersebut dibangun. Sementara, tidak jauh dari makam itu, terletak dalam ruang pemakaman dalam selatan, terdapat makam-makam para kerabat Sultan.

Di serambi yang berhadapan dengan makam, para peziarah berdoa, bahkan banyak di antaranya banyak yang menginap. Pengunjung sangat padat berziarah pada waktu-waktu tertentu, seperti sepanjang bulan Maulud, 1 Sura, atau pada tanggal 14 (Jawa) yang jatuh pada Kamis malam Jumat pada saat bulan purnamawww.majalah-alkisah.com.

Areal satu kilometer persegi lokasi masjid ini juga diisi oleh sebuah bangunan yang disebut tiyamah. Letaknya di selatan masjid di kanan serambi pemakaman. Bentuknya empat persegi panjang dan bertingkat. Bangunan ini didirikan oleh Hendrik Lucasz Cardeel. Arsitek Belanda ini, yang mendapat gelar “Pangeran Wiraguna”, turut membetulkan pembuatan benteng Speelwijk, tahun 1684-1685, semasa Sultan Haji.

Sebagai tempat ziarah, masjid dan makam Sultan Banten ini sudah cukup terkenal di kalangan para peziarah. Tidak saja karena Sultan tercatat bersikap tegas terhadap penjajah, tapi juga karena dikenal gigih mendakwahkan Islam di tanah Banten.

Ziarah Masjid dan Makam
, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata


Cita-cita Duriat Kesultanan

www.majalah-alkisah.comKharisma dan magnet Kesultanan Banten, hingga saat ini, masih terbukti begitu kuat. Meski sebagai kerajaan besar telah runtuh lebih dari satu setengah abad lampau (sejak 1832),  peninggalannya saban hari tak pernah sepi dikunjungi pelancong.

Panorama yang tersedia di provinsi paling barat Pulau Jawa itu meninggalkan situs arkeologis. Yakni reruntuhan fisik keraton, makam-makam orang terhormat, serta museum yang memamerkan beraneka barang peninggalan.

Selain makam, Banten juga memiliki kekayaan sedikitnya 87 situs kepurbakalaan. Sisa-sisa kejayaan pelabuhan Banten sebagai kerajaan Islam, tahun 1596, masih terlihat di balik dinding tembok kokoh yang mengelilingi kota Banten Lama. Dari Kompleks Istana Surosowan (seluas 3,6 hektare), dengan bangunan megah dan bentengnya yang kokoh – tempat bertakhta sejak sultan pertama, Sultan Maulana Hasanuddin (1526-70), hingga yang terakhir, Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-20) – yang tersisa hanya fondasi, pancuran (Pancuran Mas dan Kolam Denok), serta Keraton Kaibon. Keraton itu berdiri di tepi Sungai Cibanten, dibangun oleh Sultan Syafiuddin, 1815, untuk ibundanya.

Sisa-sisa masa kejayaan Kesultanan Banten kini tergeletak di kawasan sekitar 15 hektare di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, sekitar 10 kilometer utara pusat kota Serang. Di sana juga bisa dilihat peninggalan karya Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), berupa danau buatan dan saluran-saluran air, yang dibangun sebagai bagian dari sarana penjernihan air.

Zaman keemasan Banten berlangsung pada masa kesultanan. Pelabuhan Banten di pantai utara menjadi bandar internasional yang ramai. Kapal-kapal dagang dari Cina, Arab, dan belakangan dari Eropa, berlalu-lalang di sana. Di masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin dan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten telah mengekspor lada.

Wilayahnya saat itu empat kali lebih besar dari wilayah Banten sekarang: mencangkup daerah Lampung dan sebagian Sumatera Selatan. Pengaruhnya juga luas. Bahkan dalam peta politik dan diplomasi dunia, tahun 1682 Sultan Banten dikisahkan pernah mengirim dua orang duta ke Inggris, yakni Jayasedana dan Nayaprawira. Konon keduanya sempat diterima langsung oleh Raja Charles II.

Sebagai bandar internasional, menurut Yans Karel, pada tahun 1596 Banten merupakan sebuah kota yang dikelilingi tembok. Syahdan luasnya, menurut taksiran Yans Karel, kurang lebih sama dengan kota Amsterdam. Yans Karel adalah pelaut anggota armada kapal yang dipimpin Cornelius de Houtman, pedagang Belanda pertama yang datang ke Nusantara dan berlabuh di Banten, dalam perjalanannya mencari rempah-rempah. -

Di zamannya, di pelabuhan Banten memang sering kali bersandarwww.majalah-alkisah.com puluhan kapal dari berbagai bangsa. Selain Pasar Karang Antu, pasar terbesar, juga terdapat pedagang-pedagang asing.  

Kecuali Keraton Sultan Banten, yang berada di semacam forbidden city (“kota terlarang” ala istana di Cina) seluas kira-kira empat hektare, ada kawasan lain bernama Surosowan. Di masa lalu, peruntukan kawasan permukiman cukup tertata. Sensus penduduk pada tahun 1694, semasa Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin, populasi penduduk tercatat 31.848 jiwa. Di dalam dan sekitar Benteng Spellwijk, khusus untuk komunitas orang Belanda. Karang Antu, di daerah Pelabuhan Banten, menjadi kawasan hunian orang Tionghoa, Melayu, dan Portugal. Pakojan merupakan kawasan permukiman khusus orang Benggali, Gujarat, Habsyi, Arab, dan Turki.

Selain nuansa historis seperti dipaparkan di atas, bagi mereka yang berminat pada nuansa religius, lokasi ini juga memberi suasana khusus. Terutama di Masjid Agung Banten. Peninggalan itu memang berkabar tentang kurun waktu pemerintahan Kesultanan Banten (1525-1813). Sejarah kerajaan Islam Banten dimulai ketika Syarif Hidayatullah beserta 98 muridnya dari Cirebon mengislamkan Banten. Upaya ini diteruskan putranya, Sultan Hasanuddin, yang mendirikan Keraton Sorosowan pada 8 Oktober 1526 (1 Muharram 933 H).

Mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, di Masjid Agung Banten para sultan menjadi imam sekaligus khatib. Banten bahkan menjadi pusat kejayaan Islam. Para ulama dari berbagai penjuru Nusantara sering berkumpul, bertukar pikiran, dan saling menimba ilmu.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Marsekal Herman Willem Daendels, menghancurleburkan kebesaran kerajaan Islam modern pada saat itu, 12 November 1808. Masa penghancuran berlangsung sejak 1809 hingga 1832, termasuk periode pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, yang sangat anti penjajah. Kekuatan Kesultanan Banten pupus sejak tahun 1832. -

Setelah Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap, 4 Maret 1683, dan akhirnya wafat, penjajah dan penjarah VOC mengangkat Sultan Haji sebagai sultan Banten VI. Setelah Sultan Haji meratifikasi perjanjian dengan VOC, 17 April 1684, kedaulatan Kesultanan Banten pun sirna sudah. Sultan Haji meninggal tahun 1687.

Di kompleks Masjid Banten ini pula para peziarah mengunjungi ke-21 makam sultan di Banten.

Belakangan muncul ide membangkitkan kembali institusi kesultanan. Boleh jadi, revitalisasi Kerajaan Kutai mengilhami ide tersebut. Kepanitiaan dibentuk. Para duriat (keturunan) Kesultanan Banten dari empat provinsi – Banten, Lampung, Jawa Barat, dan DKI Jakarta – berembuk di Masjid Agung Banten dan Makam Maulana Hasanuddin. Sekitar 300 orang yang bergelar tubagus dan ratu, serta ayip dan ipah, dihubungi. Pemulihan lembaga keraton diharapkan bisa menjadi rujukan etika, moral, serta kultural.

Ziarah Masjid dan Makam, Departemen Kebudayaan dan Pariwisara



 

Last Updated on Tuesday, 28 August 2012 10:59