Monday, 20 May 2013
Home
Makam Sultan Kenari, Banten: Penerus Takhta Wali PDF Print E-mail
Thursday, 16 August 2012 18:46

Cikal-bakal Kesultanan Banten dapat ditarik dari kiprah Sunan Gunung Jati, salah seorang Walisanga, keturunan Kesultanan Cirebon. Setelah Kerajaan Hindu Mataram tenggelam, Sultan Cirebon menjadikan Banten sebagai salah satu kerajaan Islam. Kota di teluk ini tumbuh menjadi kerajaan yang kuat dan pengaruhnya sampai di Sumatera dan Kalimantan. Pengaruh ini lebih berarti di hampir seluruh pantai utara Jawa.

 

 

Selama 268 tahun keberadaan Kesultanan Banten, dari 1552-1820, tercatat 21 sultan yang memerintah. Nama para sultan terpampang di bagian kiri setelah pintu masuk Museum Kepurbakalaan Banten Lama, di Kompleks Keraton Surasowan dan Masjid Agung Banten, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang, Jawa Barat.

Kesultanannya sendiri didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Mengacu pada sumber klasik, Babad Banten, sebagaimana kajian Hoesein Djajadiningrat dalam Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten, Sunan Gunung Jati bersama putranya, Maulana Hasanuddin, datang ke Banten Girang hingga Gunung Pulosari untuk mengislamkan masyarakat di sana.

Di lereng Gunung Pulosari nan asri, Sunan Gunung Jati mengajarkan berbagai ilmu keislaman kepada Hasanuddin, sang putra, yang kemudian terukir namanya sebagai sultan pertama. Ia diperintahkan berdakwah dengan cara berkeliling dari satu daerah ke daerah lain. Tujuh tahun tugas itu ia jalani, hingga sang ayah mengajaknya naik haji ke Makkah.

Mayoritas masyarakat Banten pada masa itu memeluk kepercayaan animisme Sunda Wiwitan – seperti yang dianut suku Baduy saat ini. Ketika tahun 1525 Banten dikuasai pasukan Demak dan Cirebon, Sunan Gunung Jati memindahkan pusat pemerintahan dari Banten Girang (sekitar tiga kilometer sebelah selatan kota Serang) ke daerah pesisir dekat Pelabuhan Banten. Peristiwa 8 Oktober 1526 itu dimaksudkan agar memudahkan hubungan pesisir utara Jawa dengan Sumatera melalui Selat Sunda dan Samudera Hindia.
-
Nama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tampaknya lebih diakui sebagai inspirator atau penggagas. Silsilah kesultanan berawal dari putra Sunan Gunung Jati: Pangeran Hasanuddin (Panembahan Surasowan, 1526-1570), berlanjut kepada Maulana Yusuf Panembahan Pakalangan Gede (1570-1580), dan Maulana Muhammad Pangeran Ratu ing Banten (1580-1596).

Sultan keempatnya adalah Sultan Abul Mafakhir Mahmud ‘Abdul Kadir Kenari (1596-1651). Sedangkan Sultan Muhammad Rafiuddin (1813-1820), yang tanpa keturunan, merupakan sultan terakhir.

Di kesultanan ini, sebagaimana juga sering terjadi di kesultanan atau kerajaan-kerajaan lain, suksesi kerap berlangsung tidak mulus. Konflik kepentingan mewarnai keluarga sultan. Bahkan, setelah kesultanan itu tutup buku hampir dua abad, silang pendapat muncul lagi. Pokok perkara adalah ide menghidupkan kembali Kesultanan Banten – seperti Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura di Kalimantan.

Sultan Hasanuddin alias Panembahan Surasowan digantikan putranya, Maulana Yusuf (1570-1580), yang memperluas wilayah kakuasaan Kerajaan Banten sampai jauh ke pedalaman, yang semula dikuasai oleh Kerajaan Sunda Pajajaran. Ia berhasil menduduki ibu kota kerajaan ini, yakni Pakuan. Ia juga yang memperluas bangunan Masjid Agung, dengan membuat serambi, dan membangun masjid lain di Kasunyatan, sebelah selatan Banten Lama. Maulana Yusuf wafat, digantikan putranya, Maulana Muhammad, yang baru berusia sembilan tahun, dengan Pangeran Aria Japara, pamannya, sebagai wali raja.

Dibumihanguskan Daendels
Suksesi di tubuh Kesultanan Banten mulai terganggu pada masa pemerintahan sultan ketiga, Maulana Muhammad Pangeran Ratu ing Banten (1580-1596). Sang wali raja, Pangeran Arya Japara, adik Maulana Yusuf, tergoda mengambil alih kesultanan. Upaya itu gagal, dan ia dipukul mundur. Semasa pemerintahan Maulana Muhammad, tercatat kedatangan armada kapal Belanda, 1596, pimpinan Cornelis de Houtman, di Pelabuhan Banten.

Ketika berumur 25 tahun, Maulana Muhammad menyerang Palembang. Dalam serbuan itu ia meninggal. Sultan ketiga ini digelari Pangeran Seda ing Palembang atau Pangeran Seda ing Rana.
Konflik fisik hebat lainnya terjadi antara Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682) dan putra sulungnya, Sultan Haji. Dengan bantuan Belanda, Sultan Haji berhasil menangkap Sultan Ageng Tirtayasa. Di bawah pemerintahan Sultan Haji (1672-1687), Banten praktis tak berdaya menolak kepentingan imperialis Belanda.

Amir keempat yang memegang tampuk kekuasaan adalah Sultan Abul Mafakhir Mahmud ‘Abdul Kadir Kenari (1596-1651). Ia masih berusia lima bulan ketika mewarisi takhta kesultanan, setelah ayahnya meninggal dunia. Pemerintahan (wali sultan) dijalankan oleh Mangkubumi Jayanegara. Menurut Halwany’n Mudjahid Chudari, dalam Catatan Masa Lalu Banten, Sultan Abul Mafakhir Mahmud ‘Abdul Kadir Kenari memiliki 39 putra. Jumlah ini hanya kalah dari jumlah keturunan Sultan Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733), yang tercatat memiliki 58 orang putra.

Cikal-bakal Kesultanan Banten dapat ditarik dari kiprah Sunan Gunung Jati, salah seorang Walisanga, keturunan Kesultanan Cirebon. Setelah Kerajaan Hindu Mataram tenggelam, Sultan Cirebon menjadikan Banten sebagai salah satu kerajaan Islam. Kota di teluk ini tumbuh menjadi kerajaan yang kuat dan pengaruhnya sampai di Sumatera dan Kalimantan. Pengaruh ini lebih berarti di hampir seluruh pantai utara Jawa. Bahkan Banten menguasai alur perdagangan rempah-rempah yang berasal dari Maluku menuju barat. Lebih dari 15.000 jenis rempah-rempah diperdagangkan di Bandar Banten. Dalam literatur asing, Banten kerap ditulis dengan Bantam.
-
Selama lebih dari tiga abad, sepanjang abad ke-12 hingga abad ke-15, Banten sudah menjadi Pelabuhan Kerajaan Sunda. Sungai-sungai yang mengalir dari pedalaman ke arah utara Pulau Jawa juga telah dimanfaatkan sebagai jalur perhubungan antara daerah pedalaman dan pantai. Sebagai kesultanan bahari, Banten menjadi tempat persinggahan dan transaksi niaga internasional. Bangsa asing yang berdagang di Banten, antara lain, Persia, Arab, Keling, Koja, Pegu, Cina, dan Melayu.

Barang-barang yang menjadi komoditi di Banten adalah sutra, beludru, peti berhias, kertas emas, kipas dari Cina, kaca, gading, batu permata dari India, tekstil halus dan kasar dari Gujarat, batu delima, serta obat-obatan dari Arab dan Persia. Hasil perdagangan melalui pelabuhan Banten mencapai pelabuhan Turki, Bengal, Arab, Persia, dan Gujarat.
Walaupun berupa kerajaan bahari, Banten ternyata juga mengembangkan pertanian. Dasar-dasar teknologi pertanian telah diletakkan dan dikembangkan dengan baik sejak Sultan Abul Mofakhir Mahmud Abdul Kadir Kenari. Dengan dibangunnya sistem irigasi oleh Sultan Ageng Tirtayasa, pertanian di Banten berkembang semakin pesat. Tak cuma itu. Tradisi panjang industri gerabah yang berkembang di Banten memberi gambaran pesatnya kemajuan industri pada masa itu.

Sungguh disayangkan, Keraton Surasowan, dengan segala kebesarannya, dibumihanguskan oleh Daendels, 1808 dan 1832. Dari berbagai puing bangunan yang tersisa, dijumpai bangunan seperti masjid, keraton, benteng, balai pertemuan, jembatan gantung, dermaga pelabuhan, dan tembok kota. Sisa-sisa kebesaran itu kini menjadi situs tak terawat dan merana. 

Walau Keraton Kesultanan Banten telah dihancurkan, pada saat itu lahir seorang ulama kenamaan berasal dari Tanara, Tirtayasa, Syaikh Nawawi Al-Bantani. Ratusan bukunya dicetak di dalam dan di luar negeri, di antaranya dicetak di Mesir dan Beirut, yang sampai kini masih dibaca dan dipelajari.

Ziarah Masjid dan Makam – Departemen Kebudayaan dan Pariwisata

Last Updated on Saturday, 18 August 2012 14:17
 

Add comment


Security code
Refresh