Saturday, 29 November 2014
Home
Qurban atau Aqiqah dengan Binatang Betina PDF Print E-mail
Wednesday, 24 November 2010 14:04

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Apakah boleh atau sah hukumnya berqurban atau beraqiqah dengan binatang betina? Jika qurban yang kita lakukan adalah nadzar, bolehkah kita ikut makan dagingnya?
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

A. Chalid
Pasar Anyar, Bogor, Jawa Barat

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Tidak ada persyaratan bahwa qurban atau aqiqah harus dengan hewan yang jantan. Maka boleh atau sah hukumnya berqurban dengan binatang betina, dan mengenai itu tidak ada perselisihan di kalangan ulama. Dalam kitab Al-Majmu` Syarh Al-Muhadzdzab, Imam An-Nawawi mengatakan, “Dan boleh berqurban dengan binatang jantan dan betina.” Selanjutnya ia menambahkan, “Hukumnya sah berquban dengan binatang jantan dan betina berdasarkan ijma’ para ulama.”

Yang dijadikan dasar hukum oleh para ulama atas boleh atau sahnya berqurban dengan binatang betina adalah karena ketika Allah SWT memerintahkan berqurban tidak disebutkan agar harus dengan binatang jantan. Firman Allah yang dimaksud adalah yang artinya, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS Al-Kautsar: 2).

Selain itu, ketika menerangkan binatang-binatang yang tidak sah digunakan untuk berqurban, Rasulullah SAW tidak mencantumkan binatang betina, “Empat macam binatang yang tidak sah untuk dijadikan qurban: binatang yang benar-benar rusak matanya, binatang yang benar-benar sakit, binatang yang benar-benar pincang,  binatang yang kurus dan tidak berlemak lagi.” (kitab Fiqhus Sunnah).

Begitu juga boleh atau sah beraqiqah dengan binatang betina. Bahkan mengenai boleh atau sahnya beraqiqah dengan binatang betina itu telah terdapat nash yang sharih (dalil yang tegas), yakni hadis shahih dari Rasululah SAW: Dari Ummu Kurz Al-Ka`biyah, ia pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang aqiqah. Beliau  menjawab, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan satu ekor, dan bukan merupakan penghalang jika kambing yang kamu sembelih itu jantan atau betina.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan yang lainnya).

Imam Asy-Syaukani, ketika mengomentari hadits di atas, berkata, “Sabda Nabi SAW ‘Dan bukan merupakan penghalang jika kambing yang kamu sembelih itu jantan ataukah betina’ adalah dalil bahwa sahnya aqiqah itu tidak ada bedanya antara kambing jantan dan kambing betina.” (kitab Nailul Authar ).

Berdasarkan hadits tersebut, Imam An-Nawawi berpendapat, “Dan jika beraqiqah dibolehkan dengan binatang tersebut (jantan atau betina) dengan alasan hadis ini, berarti juga menunjukkan kebolehannya untuk berqurban.” (Al-Majmu` Syarh Al-Muhadzdzab).

Mengenai qurban yang dinadzarkan, apabila seseorang bernadzar akan menyembelih qurban, itu menjadi wajib baginya sebagaimana nadzar-nadzar yang lain dan ia wajib menyedekahkan semuanya, tak boleh ia memakannya, dan tak boleh menjualnya sedikit pun, sekalipun kulitnya. 

 

 

Add comment


Security code
Refresh