Wednesday, 22 May 2013
Home Dunia Islam Jalan Selamat
Jalan Selamat PDF Print E-mail
Thursday, 16 August 2012 15:07

Di balik segala sesuatu, bahkan yang buruk pun dalam pandangan manusia, pasti ada hikmah kebaikan.

 



www.majalah-alkisah.comPagi-pagi Ayah menggerutu. Karena, sampai pukul tujuh pagi, Mugni, sopir, belum datang. Mugni pinjam mobil untuk berlebaran pada hari kedua ke kampung mertuanya di Jawa Barat. Janjinya pada Ayah, insya Allah dapat mengantar Ayah ke bandara pada hari Lebaran ketiga, karena hari itu beliau akan ke Singapura, membesuk Kakek, yang operasi penyakit hernia di Kota Singa, atas tanggungan perusahaan tempat beliau bekerja.

“Kalau Mugni tidak datang pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Ayah pecat dia!” ancam Ayah sambil mondar-mandir di beranda depan rumah.

“Akbar bisa antar Ayah dengan kijang,” si bungsu menawarkan jasa.

“Kamu belum berlebaran ke rumah calon mertuamu, Akbar,” Ayah mengingatkan. “Lagi pula, Ayah mau mendisiplinkan Mugni, yang belum genap enam bulan kerja di rumah kita.”    Pukul 07.25, telepon genggam Ayah berbunyi di dalam tas. Beliau, yang lagi kesal, kembali menggerutu. “Siapa lagi mengganggu pagi-pagi ini, hah!” sentak Ayah.

“Oh, kamu Mugni? Ada di mana kamu? Lihat arloji tanganmu, sudah pukul berapa sekarang?” kata Ayah geram.

“Mobil mogok, Pak,” terdengar suara Mugni di seberang sana. “Saya lagi di bengkel, Pak. Lima menit lagi selesai, Pak....”

“Masya Allah, Mugni. Aku harus sudah berada di bandara dua jam sebelum pesawat pertama terbang.”

“Sabar, Ayah,” Ibu mengingatkan, dengan berbisk.

Mendengar bisikan Ibu, Ayah mengucap astaghfirullah.

Pukul 07.50, Mugni datang. Terengah-engah lelaki paruh baya itu saat menghadap Ayah. Ia memohon maaf. Semua itu katanya karena kelalaiannya, kurang mengontrol karburator mobil.
“Ayolah, berangkat sekarang!” perintah Ayah.          

Apa yang dicemaskan Ayah terbukti. Terlambat sampai di bandara. Pesawat pertama sudah berangkat. Tapi, Ayah hanya diam. Mugni sekali lagi minta maaf.

Tiba-tiba terdengar pengumuman melalui pengeras suara. Diberitakan, pesawat pertama yang berangkat pukul 09.05 mengalami kecelakaan, sehingga mendarat darurat di sawah penduduk di Sumatera. Para penumpang dievakuasi ke rumah sakit karena luka-luka.

Mendengar berita itu, Ayah terperangah, dan berkali-kali menyebut nama Allah.

Di rumah, Ibu mengucap syukur setelah mendengar berita lewat telepon genggam Ayah dari bandara. 

HKU, ES

 

Last Updated on Saturday, 18 August 2012 20:15
 

Add comment


Security code
Refresh