|
Orang yang mudah memaafkan orang lain, dan tidak segan meminta maaf bila melakukan kesalahan, disukai orang-orang di sekitarnya.
Seperti lazimnya, suasana Desa Cinangka, Sawangan, Depok, terasa sunyi dan senyap, tak terkecuali pada awal tahun 2005. Hanya ada beberapa orang yang bisa ditemui di sepanjang jalan desa. Kebanyakan mereka adalah petani yang sedang menggarap sawah atau penggembala yang sedang mencari rumput.-
Pemandangan yang berbeda terjadi di kompleks pemakaman desa setempat. Sejak beberapa saat lalu, kawasan pekuburan itu ramai oleh peziarah. Mereka berkumpul untuk mengantar jenazah Ibu Amir, salah seorang tokoh di desa itu.
Namun keramaian itu tidak berlangsung lama. Setelah jasad Ibu Amir dimasukkan ke dalam liang lahatnya, satu per satu pengantar jenazah meninggalkan kuburan, seiring meredupnya terik matahari.
Beberapa anggota keluarga Ibu Amir terlihat masih tinggal di sana. Kelelahan dan kedukaan masih menyelimuti mereka. Berlantaikan tikar yang dibawa dari rumah, anak-anak dan suami Ibu Amir khusyu’ memanjatkan doa.
Hanya beberapa jengkal tanah dari posisi kerumunan kecil ahli waris Ibu Amir, juru kunci makam tersebut duduk termangu. Pikirannya melayang jauh, menyaksikan keajaiban yang baru saja dialaminya. Siapa sebenarnya Ibu Amir ini, bagaimanakah kehidupannya selama di dunia, dan mengapa kuburnya terasa begitu luas, tidak seperti jasad yang lain, yang ketika dimasukkan ke liang lahatnya terasa sempit dan sesak?
Keanehan ini pun tidak hanya dilihat juru kunci, tapi juga oleh orang yang ikut memasukkan jenazah almarhumah ke liang lahatnya.
Apa yang telah dilakukan oleh almarhumah, sehingga ia mendapat rahmat Allah seperti itu?
Selalu Shalat Berjama’ah Hingga malam ke-40 sejak kematin Ibu Amir, si juru kunci masih menyimpan pertanyaannya. Malam itu, si juru kunci melewati rumah keluarga almarhumah. Dilihatnya pintu depan rumah keluarga itu terbuka lebar. Kursi-kursi yang semestinya berada di ruang tamu telah dipindahkan ke teras depan. Ia menghentikan langkahnya. Ingin rasanya mendatangi rumah tersebut dan menanyakan perihal kehidupan almarhumah, tapi ia merasa sungkan.
Suara adzan mulai terdengar dari corong masjid yang tidak jauh dari situ. Si juru kunci bergegas memenuhi panggilan shalat itu.
Saat hendak meninggalkan masjid, ia berniat akan bertanya kepada ustadz majsid itu, siapa sebenarnya Ibu Amir. Barangkali ustadz tahu kehidupan almarhumah.
“Assalamu’alaikum, Ustadz,” kata si juru kunci.
“Wa’alaikumussalam,” jawab ustadz.
Keduanya lalu terlibat perbincangan, sampai akhirnya si kuncen memberanikan diri mengajukan pertanyaan yang menggelayut dalam benaknya.
“Ustadz, apakah Ustadz mengenal dekat Ibu Amir?” tanya si kuncen.
“Oh iya, dia itu dulu semasa hidup selalu berjama’ah di masjid ini. Jadi sedikit banyak saya mengenalnya. Tapi mengapa Pak Kuncen jadi serius begini?” Ustadz balik bertanya.
“Sudah lama saya menyimpan pertanyaan ini. Sebab, waktu memasukkan jasad almarhumah Ibu Amir, terdapat keanehan luar biasa. Saya merasakan, lubang kuburnya sangat luas, tidak sesak seperti yang lainnya,” kata si kuncen dengan suara yang semakin berat.
“Subhanallah, Mahasuci Allah, itulah kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang selalu bertaqwa. Kalau Pak Kuncen tanya seputar kehidupan pribadi, tentu saya tidak mengerti. Tapi yang saya ketahui, Ibu Amir ini insya Allah termasuk golongan ahli berjama’ah. Ia tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu berjama’ah,” kata ustadz sembari sesekali menghela napas panjang.
“Yang lebih mengesankan saya dari sosok Ibu Amir ini, almarhumah selalu menghampiri rumah yang pintu depannya terbuka. Di sana ia selalu meminta maaf, takut bila ia melakukan kesalahan atau membuat sakit hati orang yang punya rumah. Inilah sosoknya yang saya kenal selama ini,” kata ustadz.
“Kita ambil saja hikmahnya, kita teledani perbuatan baiknya. Semoga kita mendapatkan kesempatan seperti yang ia peroleh. Bukankah meminta maaf dengan ikhlas itu perbuatan yang mulia. Dan lagi, meminta maaf itu tidak hanya bisa dilakukan saat Lebaran. Kapan pun waktunya, bila kita merasa bersalah atau menyakiti hati orang lain, ada baiknya saat itu juga kita meminta maaf,” kata ustaz, yang kemudian mengajak si kuncen mengikuti tahlil 40 hari di rumah keluarga almarhumah.
MBO
|