|
“Apakah kamu tahu siapa pengemis yang datang di depan pintu tadi? Sesungguhnya ia adalah bekas suamiku.”
Tatkala Allah menciptakan surga Firdaus, Dia berkata kepada surga-Nya itu, ”Wahai surga, berkatalah dengan seizin-Ku.”
Surga pun berkata, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman.”
Lalu Allah menegaskan kepada surga, “Dengan kekuasaan dan kebesaran-Ku, orang pelit dan kikir tidak bisa sama sekali mendampingimu.”
Bicara soal pelit dan sombong, ada kisah tentang seorang kaya dari Bani Israil yang sedang duduk makan siang bersama istrinya. Di atas meja tersedia segala macam hidangan, di antaranya ada ayam panggang.
Tiba-tiba seorang pengemis datang mengetuk pintu. Istrinya pun berkata kepada suaminya, ”Pak, ada pengemis di depan rumah. Kasihan sekali. Apakah kita akan bersedekah kepadanya dengan sepotong ayam panggang?”
Sang suami tiba-tiba membentaknya, “Jangan! Usirlah pengemis itu!”
Dunia pun berputar, hari berganti hari, dan bulan menjadi tahun. Si kaya, yang tadinya bergelimang kenikmatan, berubah menjadi miskin. Istri kesayanganya pun telah ditalak. Sang istri telah kawin lagi dengan seorang laki-laki kaya.
Kemudian terulang lagi peristiwa lama, si istri makan siang bersama suaminya yang baru, terhidang makanan semeja penuh, di antaranya tentu saja segelundung ayam panggang….
Tiba-tiba seorang mengetuk pintu dan mengemis makanan. Sang suami berkata kepada istrinya dengan penuh rahmat, “Ambillah sepiring nasi, jangan lupa sepotong ayam panggang sebagai lauknya, dan berikanlah kepada pengemis itu.”
Setelah memberikan nasi dan ayam panggang kepada pengemis, sang istri masuk ke rumah sambil menangis.
Suaminya sangat heran dan bertanya, “Kenapa kamu menangis? Apakah kamu marah karena aku memberi pengemis itu nasi dan ayam panggang?”
“Tidak, sama sekali tidak!” jawab istrinya. “Aku menangis karena ada sesuatu yang sangat ganjil dan ajaib.”
Sang suami jadi penasaran. “Apa gerangan yang ganjil dan ajaib itu? ”
“Apakah kamu tahu siapa pengemis yang datang di depan pintu tadi? Sesungguhnya ia adalah bekas suamiku.”
Mendengar itu sang suami segera berkata kepada istrinya, “Apakah kamu tahu siapa aku sebenarnya? Sesungguhnya aku adalah pengemis yang datang ke rumahmu dulu itu.”
Subhanallah!
Maka janganlah sekali-kali menghina atau meremehkan seseorang. Tuhan memberi rahmat kepada orang yang dihina, dan sebaliknya diberikan kutukan dan musibah kepada orang yang suka menghina.
“Katakanlah: Ya Allah, yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam
ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rizqi siapa yang Engkau kehendaki tanpa batas.” (Al-Fathir: 13).
Hasan Husen Assagaf, Riyadh
|