Friday, 24 May 2013
Home Dunia Islam Dulu Mbajing, Kini Berdakwah
Dulu Mbajing, Kini Berdakwah PDF Print E-mail
Thursday, 16 August 2012 16:05

Saat muda, ia bergaul dengan para bajingan. Setelah berdialog dengan seorang pastur, pemuda Katholik ini justru menyempurnakan agamanya ke dalam agama Islam. Kini ia menjadi ustadz, guru teladan tingkat DKI Jakarta, kepala sekolah, dan dosen.

 

 

www.majalah-alkisah.comDrs. H. Pono Fadlullah, M.Hum., yang lahir pada 13 Juli 1954 di Sleman, Yogyakarta, adalah anak kedua dari lima bersaudara pasangan Markus Sumitro dan Tukiyem. Ayahnya penjual dawet pikul di Sleman Barat yang sangat dikenal penduduk setempat dengan label Dawet Mitro Tingting, sedangkan ibunya adalah penjual batik khas Yogyakarta.

Meski dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Katholik yang taat, Pono kecil mengaku tidak merasa mendapat pendidikan ala Katholik. Ia tidak disekolahkan di sekolah Katholik. Pendidikan dasarnya dihabiskan di Yogya, sejak SD hingga IKIP Sanata Darma. Ia kemudian meneruskan ke IKIP Muhammadiyah Jakarta, Jurusan Sejarah.

Masa remajanya kelam. Tiada hari tanpa berantem, dan sesekali mencuri. Ia bergaul erat dengan para copet, maling, hingga perampok kelas kakap. Salah satunya adalah Slamet Gundul, perampok kelas kakap era 1970-an. Copet di Pasar Beringharjo, Kranggan, dan Ngasem, semua dikenalnya. Ya, kehidupan mbajing memang akrab dengannya.

Untuk melengkapi ”keterampilan” bergaul di dunia hitam, Pono juga melakukan berbagai macam puasa dan menuntut ilmu kanuragan atau kadigdayan. Ia juga melakukan berbagai macam laku atau tirakat. Tujuannya, semata-mata demi kekebalan tubuh. Beberapa aliran silat pun diikutinya. Sehingga, di samping kebal, ia juga gesit dalam gerakan silat.

“Saat memang kuliah. Tapi, di luar area kuliah, saya mbajing,” kata Pono.

Hingga, suatu hari, di kampus IKIP Sanata Darma, Pono terlibat dialog soal perbandingan agama Kristen dan Islam dengan Pastur Baker. Ia pakar Islamologi dan Kristologi, juga dosen sejarah. Hal itu berulang beberapa kali hingga bulan Agustus 1975. Sang pastur menjelaskan konsep Kristologi dan membandingkan konsep ketuhanan Kristen dengan surah Al-Ikhlas di dalam Al-Qur’an. Yang menimbulkan keheranan dalam diri Pono adalah kenapa Pastur Baker justru mengakui kebenaran konsep ketuhanan Islam tapi ia tidak bersedia memeluk Islam.

“Kalau begitu,” kata Pono, “bagaimana jika saya memilih agama yang logis dan masuk akal dan meninggalkan yang tidak masuk akal? Bagaimana kalau konsep Trinitas saya anggap hanya sebagai ilmu dan saya mulai meyakini surah Al-Ikhlas?”

Di Masjid Suhada, dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan qari Anang Acil dan Muhammad Dong (juara pertama MTQ Internasional di Kualumpur dan juara pertama MTQ Nasional di Makassar). Tanpa sungkan lagi, ia utarakan maksudnya ingin belajar mengaji. -

Karuan saja, kedua qari ini menyambut dengan hangat dan lembut. Syaratnya, Pono harus mengucapkan dua kalimah syahadat.

Dibimbing Muhammad Dong, disaksikan  Anang Acil dan para mahasiswa muslim penghuni asrama Yasma Putra, tempat Muhammad Dong indekos, upacara itu berlangsung khidmat. “Perasaan saya saat itu seperti mendapat Lailatul Qadr. Hati saya merasa tenang dan damai,” kata Pono berkaca-kaca. Dan, saat itu juga, Pono mendapat tambahan nama “Fadlullah”, yang berarti “karunia Allah”.

Sejak itu, setiap hari Pono belajar mengaji kepada kedua qari tersebut. Dalam waktu beberapa bulan, Pono mampu membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang terpelihara. Maklum, ia sudah mengenal huruf Arab sejak SD dan ayahnya sering menyenandungkan kidung-kidung cerita Minak dari tulisan Arab pegon, saat ia kecil.

Di Masjid Suhada, Pono juga mendalami ajaran agama Islam hingga selesai kuliah di IKIP Sanata Darma.

Namun, pergaulannya dengan para penjahat membuatnya tersudut. Walaupun merasa kebal terhadap senjata tajam maupun senjata api, ia masih merasa takut jika dilibatkan dalam kejahatan. Maka, ia pun bersembunyi di Jakarta di rumah kakaknya.

Setelah beberapa bulan bersembunyi, kakak Pono mengumpulkan beberapa orang pintar di rumah seorang supranatural di Cipinang Muara, Jakarta Timur, untuk menghilangkan kekuatan ghaib yang melekat di tubuh Pono. Mereka menyedot ilmu ghaib Pono. Saat itu, sebuah seng genting tampak jebol dan terbang, pertanda ilmu ghaib Pono lepas. Sejurus kemudian ia lunglai dan tidak bertenaga. Kekuatan Pono pun berubah drastis, ia hanyalah seorang manusia normal.
Setelah merasa aman dan tenang, Pono melamar dan diterima menjadi guru SMP Bunda Hati Kudus, Grogol, Jakarta Barat. “Karena menjadi guru di sekolah Katholik, saya terpaksa mengantar murid-murid ke gereja untuk kebaktian. Tapi, saya tidak ikutan berdoa,” tutur Pono.
Setahun kemudian Pono lulus tes guru negeri dan ditempatkan di SMAN 51 Condet, Jakarta Timur. Di waktu luang, ia menjadi guru sambilan di SMAN 74 Jakarta Timur. Seiring dengan itu ia melanjutkan kuliah di Jurusan Sejarah IKIP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, yang kemudian menampungnya sebagai dosen. Ia juga merangkap pembantu rektor III di Sekolah Tinggi Agama Islam Jakarta Utara.

Suami Christiana Budiarti ini pada 1999 dinobatkan menjadi guru teladan pertama tingkat Jakarta Timur, yang menghantarnya meraih gelar guru teladan pertama tingkat DKI Jakarta.-

Seorang dermawan yang tertarik pada latar belakang Pono mengajaknya pergi haji pada 2003. Di depan Ka’bah, ia menangis, mohon ampun, dan berjanji tidak akan berbuat jahat atau dosa lagi. Ia juga bermaksud mengajak istrinya menunaikan ibadah haji.

Kini, di samping aktif dalam dunia pendidikan, Drs. H. Pono Fadlullah, M.Hum. juga aktif berdakwah.

DHO








Last Updated on Friday, 17 August 2012 13:19
 

Add comment


Security code
Refresh