Thursday, 23 October 2014
Home Dunia Islam Derita Nissa di Pesantren Nurul Iman, Parung, Bogor
Derita Nissa di Pesantren Nurul Iman, Parung, Bogor PDF Print E-mail
Thursday, 11 October 2012 10:17

“Tidak ada uang cash, anak tak bisa keluar pesantren,” ucap Ustadz Nasir dengan muka keras.

 

 

Impian Nissa, 12 tahun, untuk menjadi ustadzah buyar sudah. Asa yang dipupuknya sirna, bak awan tersapu angin.

Betapa tidak, ketika diterima di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor, yang didirikan oleh almarhum Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abubakar Bin Salim, 16 Juni 1998 ini, gadis kecil kelahiran Cibalagung, Bogor, itu begitu gembira. Sampai-sampai ia mengabarkan ke seluruh teman sepermainannya bahwa kelak ia akan menimba ilmu di pesantren yang terkenal dengan kehebatan dan kemegahannya.

Namun, setelah 40 hari berada di tempat itu, ia pun menangis dan meminta dipulangkan oleh orangtuanya. Dalam cerita itu, ia hanya menceritakan bahwa ia tak betah karena kangen kepada sang ibu, yang telah menghadap Sang Pencipta, juga kepada sang ayah, yang sangat dicintainya. Sang ayah pun mengerti dengan kerinduan gadis kecilnya, namun ia berusaha menasihati dan memberi pengertian anaknya.

Rupanya nasihat sang ayah diterimanya. Ia pun berjanji akan tetap berada di pesantren itu. Tetapi empat hari kemudian, gadis kecil yang lugu ini kembali menghubungi orangtuanya melalui telepon yang dipinjamnya dari kerabat salah seorang tamannya yang kebetulan datang menjenguk.

“Ayah…  Ayah… kalau Nissa tidak dijemput, Nissa kabur saja,” katanya memelas di sela isak tangisnya.

Mendengar ucapan itu, Hendra, sang ayah, pun kelabakan. Dan ia pun berjanji bahwa keesokan harinya ia akan datang menjemput sang buah hati. Sayang, keesokan harinya Hendra tak mampu menjemput anak kesayangannya ini. Dan ia pun meminta bantuan kerabatnya, yakni kedua bibi anak kecil ini, yang salah satunya ikut mengantar waktu gadis kecil itu masuk ke pesantren untuk pertama kalinya.

Singkat cerita, keesokan harinya, kedua bibinya bertemu gadis piatu ini. Berbagai upaya dilakukan agar anak ini tetap mau bertahan. Tapi rupanya niat sang keponakan tak bisa dibendung. Dengan berat hati kedua bibi ini meminta izin kepada pengurus pondok pesantren ini.
“Boleh… tapi Ibu harus membayar Rp 20.000 x 40 hari. Jadi totalnya Rp 800.000,” kata Ustadz Nasir, di sekretariat.

“Lho? Untuk apa?” tanya si bibi bingung.

“Iya… jika si anak tak betah, ia harus membayar pengganti uang makan, seharinya Rp 20.000 kali berapa hari ia bermukim di sini.”

“Kok waktu dimasukkan ke sini dulu tidak ada perjanjian seperti ini,” kata si bibi yang pertama kali mengantar gadis kecil itu.

“Tidak ada uang cash, anak tak bisa keluar pesantren,” kata Ustadz Nasir dengan muka keras.
Mendengar ucapan itu, upaya negosiasi dilakukan. Tapi hasilnya tak membawa hasil.

Jelas kata-kata itu membuat si bibi tersedak. Maka ia pun menghubungi Majalah alKisah, yang pernah menulis berita tentang rajutan impian dan tujuan almarhum Habib Saggaf bin Mahdi ketika beliau masih hidup, dan selalu menerima wartawan dengan tangan terbuka.

“Apakah benar kalau santri keluar harus membayar, Ustadz?” tanya Adi Priatna  dari Majalah alKisah sore itu.

“Benar!” jawab sang ustadz singkat.

“Setahu kami, peraturan ini tidak pernah ada. Kami tahu betul, karena hubungan kami dengan almarhum sangat baik.”

“Ini memang peraturan baru. Mulai diberlakukan tanggal 15 Agustus lalu oleh Umi, pimpinan pesantren ini,” ujar Ustadz.

“Kok jadi begini? Hati-hati, Ustadz, kalau nanti diketahui publik, mungkin orang tak akan lagi mau datang ke sini,” kata Adi Priatna mengingatkan.

“Kalau mau ditulis juga nggak apa-apa,” kata si Ustadz Nasir pongah.

Maka, mengingat betapa keras kepalanya si ustadz, Adi Priatna pun kembali berbicara kepada bibi si anak untuk membayar uang denda tersebut.

Mendengar hal itu, si bibi pun langsung memberikan uang sejumlah yang diminta, yang langsung diterima Ustadzah Neni dengan muka dan mata berbinar. 

“Rupanya pesantren itu sudah seperti rumah gadai. Jika ingin barang (orang) keluar, mereka harus menyerahkan tebusan,” ujar si bibi dengan nada masygul.

“Bukan… pondok itu sudah seperti kamp penculikan. Ingin sang anak bebas, harus membayar tebusan,” kata sang ayah kepada alKisah.

Ingin tahu mengapa Nissa, gadis kecil piatu ini, tak lagi ingin berada di tempat itu? Mengapa ia selama ini bungkam dan tak mau menceritakan kejadian yang dialaminya kepada keluarganya. Bagaimana cara wartawan alKisah mengorek isi hatinya? Simak kisahnya di Majalah alKisah edisi 22/2012, yang akan terbit tanggal 24 Oktober 2012 mendatang.

Trianto

Last Updated on Thursday, 11 October 2012 10:27
 

Add comment


Security code
Refresh