Tuesday, 29 July 2014
Home Dunia Islam Karya-karya Orientalis : Antara Manfaat dan Madharat (Bagian 2/Tamat)
Karya-karya Orientalis : Antara Manfaat dan Madharat (Bagian 2/Tamat) PDF Print E-mail
Tuesday, 11 June 2013 18:14

www.majalah-alkisah.comBeberapa tokoh orientalis diakui cukup berjasa dalam menggali buku-buku warisan Islam dan disebarkannya setelah ditahqiq dan disistematiskan. Namun demikian mengkritisi karya-karya mereka adalah sebuah keharusan.

 

 

Berbagai Motivasi

Berdasarkan keragaman latar bela­kang kaum orientalis, dapat dipetakan tujuan dan motif orientalisme.

Pertama, dan paling utama, adalah motivasi agama. Sasaran-sasaran me­reka adalah menumbuhkan keragu-ragu­an terhadap keyakinan umat atas kerasulan Nabi Muhammad SAW, dan membuat anggapan bahwa hadits Nabi adalah sebagai perbuatan umat Islam pada kurun tiga abad pertama Islam. Selain itu mereka juga berupaya me­numbuhkan keraguan terhadap kebe­naran Al-Qu’ran dan memutarbalik­kan­nya, membuat angggapan bahwa fiqih sebagai adopsi dari hukum Romawi, me­mojokkan bahasa Arab dan bangsa Arab, serta menjauhkannya dari ilmu pengetahuan yang semakin berkem­bang, menampilkan Islam kepada sum­ber Yahudi dan Nasrani (Israiliyyat), dan ujung-ujungnya mengkristenkan umat Islam dengan pemahaman liberalisme dan inklusivisme agama.

Motivasi yang kedua ialah ekonomi dan penjajahan. Pemerintahan bangsa-bangsa Eropa banyak mendanai kegiat­an orientalisme ini dengan jumlah biaya sangat besar, demi mengenal lebih jauh kondisi negara-negara Islam melalui la­poran lengkap kaum orientalis, sebelum mereka “menggarapnya”. Penelitian se­macam ini sangat digalakkan, terutama pada masa sebelum penjajahan Barat pada kurun abad ke-19 dan 20 M. Satu contoh, kolonialis Belanda membuat ba­dan Kantoor vor Inlandsche Zaken yang pernah diketuai Hurgronje untuk keper­luan tersebut di Hindia Belanda.

Ketiga, motivasi politik agama, yakni melemahkan semangat ukhuwah Islam­iyah dan memecah-belah umat, mem­benturkan kaum adat dengan agama, agar mudah dikuasai.

Keempat, motivasi keilmuan. Seba­gian orientalis ada yang mengarahkan penelitian dan analisisnya semata-mata un­tuk eksplorasi pengetahuan. Ada di antara mereka yang mengkaji sampai kepada esensi Islam dan bahkan masuk Islam, seperti Martin Lings dan Murad W. Hoffman. Alhamdulillah.

Menjadi Ironi

Bagaimanapun, eksistensi kaum orientalis patut diacungi jempol dalam hal kesungguhan mereka menggali sum­ber-sumber keislaman.

Geschichte der Arabischen Litteratur, karya Carl Brockelmann, misalnya, me­ru­pakan ensiklopedia Islam terlengkap per­tama karya asing, yang banyak me­rujuk kepada kitab-kitab primer, seperti Thabaqat Ibn Sa’ad, Tarikh Al-Alusi, Ibn Hisyam.

Begitu juga kitab berjudul Mu’jam Mufahras li Alfazh Al-Hadits, kamus untuk mencari nash hadits. Mu’jam ini mencakup Kutub as-Sittah plus Musnad Ad-Darimi, Al-Muwaththa‘ Imam Malik, dan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, terdiri atas tujuh jilid dan beredar sejak tahun 1936 M sampai sekarang.

Beberapa tokoh orientalis diakui cu­kup berjasa dalam menggali buku-buku warisan Islam dan disebarkannya setelah di­tahqiq dan disistematiskan. Beberapa kalangan di antara mereka memiliki meto­dologi ilmi­ah dan ketelitian dalam mentah­qiq, me­nyaring, dan menelusuri persoal­an. Namun demikian, bukan berarti lang­kah-langkah mereka dapat diterima de­ngan bulat. Mengkritisi adalah sebuah ke­ha­rusan bagi pelajar muslim saat me­nelaah karya-karya mereka. Belum lagi dari sisi keberkahan ilmu, mereka seka­dar meng­hiasi khazanah pustaka keis­laman sepanjang masa. Kecuali tentu saja orientalis yang kemudian masuk Islam.

Ironisnya, gaung orientalisme (orien­talisme dalam konotasi yang negatif) di negerinya sendiri semakin hari semakin tak terdengar. Sebaliknya, kini, jumlah orang Barat yang memeluk Islam sema­kin banyak. Di Prancis, jumlah umat Islam semakin meningkat. Begitu pula di Inggris dan Belanda, yang selama ini menjadi pusat studi keislaman yang di­bangun demi kepentingan orientalisme.

Orang yang berpikiran rasional, yang merupakan ciri yang amat kuat bagi orang Barat, akan meneliti lebih jauh tulisan yang bersifat tidak rasional. Dari sinilah orang Barat, terutama para in­telektualnya, banyak yang mengkaji Islam. Dan akhirnya, melihat betapa tingginya nilai yang terkandung di dalam Al-Qu’ran, misalnya, alhamdulillah, mereka banyak yang masuk Islam.

Bagaimanapun, mengingat bahwa orientalisme juga digunakan sebagai senjata budaya dalam perang pemikiran dengan kaum muslimin, seorang pelajar muslim hendaknya kritis dalam mene­laah karya-karya mereka dan berhati-hati. Para pelajar yang masih pemula da­lam memahami Islam diharapkan tidak membaca buku-buku karya mereka.

AB


Pasang iklan dilihat ribuan orang? klik > murah dan tepat sasaran">Serbuanads >> MURAH dan TEPAT SASARAN

Last Updated on Tuesday, 11 June 2013 18:18
 

Add comment


Security code
Refresh