Saturday, 18 May 2013
Home Dunia Islam Imam Ali di Mata Syi’ah
Imam Ali di Mata Syi’ah PDF Print E-mail
Wednesday, 18 January 2012 17:10

Imam Ali adalah penghitung amal perbuatan di hari Kiamat, “Sesungguhnya (hanya) kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.”

 


 

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, perjalanan sejarah ahlul bayt dan jejak-jejaknya tak pelak terus memunculkan banyak wacana di tengah umat, mulai dari zaman sahabat, tabi’in, bahkan hingga hari  ini


Satu di antara sekian banyak fitnah yang beredar di tengah-tengah kaum muslimin adalah adanya pengagungan yang berlebihan dari kalangan orang-orang yang mencintai ahlul bayt, terutama terhadap Imam Ali bin Abi Thalib RA, sehingga menempatkannya pada kedudukan yang beliau sendiri tidak pernah ridha terhadap hal itu.

Pengagungan yang berlebihan itu kemudian melahirkan fitnah berikutnya, yakni fitnah adanya hubungan yang tidak baik antara ahlul bayt dan para sahabat Nabi SAW. Padahal, sejumlah fakta membuktikan dengan jelas bahwa kasih sayang antara ahlul bayt dan para sahabat Nabi SAW tetap terjalin dengan baik, sebab mereka adalah anak didik Rasulullah SAW yang telah mereguk nilai-nilai kasih sayang langsung dari sumbernya yang sama, yaitu Rasulullah SAW.

Perjalanan panjang sejarah telah menjadikan dua fitnah ini sebagai embrio yang melahirkan dua golongan besar di tengah kaum muslimin, yang masing-masing golongan berada pada sisi yang berbeda dengan pandangan dan keyakinannya masing-masing. Dua golongan besar itu adalah Ahlussunnah wal Jama’ah dan Syi’ah.

Pandangan Syi’ah yang ekstrem terhadap ahlul bayt dan para sahabat bukanlah sesuatu yang baru dalam panggung sejarah kaum muslimin. Meskipun tetap diakui bahwa, dalam keekstreman itu, kaum Syi’ah pun terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil dan besar dengan kadar keekstreman yang berbeda-beda pula. Dan semua pandangan dan doktrin itu telah tertulis di dalam karya-karya para ahli ilmu di kalangan mereka dari generasi ke generasi.

Di antara buku-buku Syi’ah yang baru-baru ini beredar dari kalangan Syi’ah di Indonesia adalah buku yang berjudul Ali Oyene-e Izadnemo, yang ditulis oleh Abbas Rais Kermani dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Kecuali Ali.

Secara garis besar, sebagaimana laiknya karya-karya ulama Syi’ah, buku ini berisi tentang dua hal: Pertama, pengagungan terhadap Imam Ali RA menurut pandangan dan doktrin kalangan Syi’ah, yang dalam pandangan kalangan Ahlussunah dinilai sebagai pandangan ekstrem dan mengada-ada. Kedua, berisi tentang hujatan kaum Syi’ah terhadap keadilan para sahabat Rasulullah SAW, terutama terhadap para Khulafaur Rasyidin, yang mereka anggap telah merampas hak-hak ahlul bayt, terutama Imam Ali bin Abi Thalib RA.
***
Penulis misalnya menyatakan: Ketika Imam Ali AS di pembaringannya (saat-saat menjelang ajalnya), semua makhluk datang menemuinya karena beliau bisa berbicara dengan bahasa dunia dan akhirat. Bendera “al-Hamd” berada di tangannya.

Rasulullah SAW berkata, “Wahai Ali, sesungguhnya bendera 'al-Hamd' akan bersamamu (berada di tanganmu) di hari Kiamat....”

Ali AS dengan benderanya, di bawah naungan arsy, datang dan berdiri di sisi Rasulullah SAW. Dengan bendera itu dia menuju surga. Bagaimanapun juga, Adam AS dan anak-cucunya (Bani Adam) akan berada di bawah naungan bendera itu.

Dia akan menjadi neraca segala perbuatan sebagaimana yang disebutkan dalam doa ziarah kepada beliau AS, “Salam bagimu, wahai neraca segala perbuatan.”

Keimanan dan perbuatan kaum mukmin haruslah sesuai dengan keimanan dan perbuatan Imam Ali AS. Melalui perhitungan ini, salah satu makna dari “neraca” di hari Kiamat adalah Imam Ali AS.

Imam Ali adalah penghitung amal perbuatan di hari Kiamat, “Sesungguhnya (hanya) kepada Kami-lah mereka kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.”
***
Pada akhirnya, marilah kita merenungkan ungkapan Imam Ali RA, beliau berkata, “Ada orang-orang yang karena kecintaannya kepadaku mereka masuk neraka, dan ada pula orang yang karena kebenciannya kepadaku mereka masuk neraka.”

Imam Ali RA juga berkata, “Ada dua orang yang pasti binasa karena diriku; orang yang mencintaiku secara berlebih-lebihan karena sesuatu yang tidak ada pada diriku, dan orang yang dicekam kebencian terhadap diriku hingga mendustakan diriku.”

MS


Last Updated on Tuesday, 07 August 2012 16:34
 

Add comment


Security code
Refresh