Tuesday, 02 September 2014
Home Figur Figur Habib Ahmad bin Alwi Al-Habsyi: “Kita ini Belum Seberapa”
Habib Ahmad bin Alwi Al-Habsyi: “Kita ini Belum Seberapa” PDF Print E-mail

majalah islam, majalah alkisah, majalah islamiNiatkan di dalam hati bahwa semua ini dilakukan demi dakwah mengajak umat manusia pada kebenaran, demi syiar Islam di atas muka bumi, menjaga langkah kaki untuk selalu berjalan di atas jalan salaf, dan senantiasa berbaur dengan insan-insan dakwah dari mana pun mereka berasal.

 

 

 

Kampung Keramat Panjang. Nama sebuah daerah di wilayah Tangerang itu cukup familiar bagi sementara orang, tapi mungkin tidak bagi yang lainnya.

Nama kampung itu disebut demikian karena keberadaan makam keramat di sana yang bangunan makamnya cukup panjang, sampai beberapa meter, jauh lebih panjang dari makam-makam lain pada umumnya, yang hanya berkisar dua meter. Namun karena letaknya yang cukup jauh dari pusat kota, banyak orang yang belum berkesempatan menginjak daerah itu. Maklum saja, perkampungan tersebut terletak di pinggir laut sisi utara kota Jakarta. Dan di wilayah itulah dai muda figur kita kali ini dilahirkan.

Habib Ahmad bin Alwi bin Ali bin Hud bin Abdullah Al-Habsyi adalah putra kedelapan dari sebelas bersaudara. Ia besar dalam didikan orangtua yang tegas dalam mendidik anaknya.

“Gaya mendidiknya itu gaya wulaiti,” kata Habib Ahmad mengenang masa-masa indahnya saat sang ayah masih ada di tengah-tengah keluarga. Wulaiti adalah sebutan bagi seseorang yang lahir di tanah Arab. Memang, biasanya orang-orang sana itu sangat tegas dalam mendidik keluarganya.

“Ayah saya tergolong galak. Tegas sekali kalau mendidik anak-anaknya. Di rumah, setiap paginya kami harus bangun pagi-pagi sekali. Jam empat subuh harus sudah bangun. Kalau jam empat subuh tidak bangun, siap-siap saja kena siram air,” cerita Habib Ahmad. Meski ceritanya itu terkesan “seram”, Habib Ahmad menceritakannya dengan wajah sumringah. Rupanya ia merasakan bahwa hasil didikan ayahnya yang seperti itulah yang membentuk dirinya hingga bisa menjadi seperti sekarang.

“Walidi (ayah saya) galak. Ana nggak boleh banyak keluar. Ada layar tancap, ada ini, ada itu, tetap nggak boleh keluar. Tapi ana nggak pernah ngambek kalau dimarahin. Kalau walidi habis makan, bekasnya ana habisin. Kalau lagi duduk-duduk santai, ana deketin, terus ana pijit-pijit kakinya. Alhamdulillah, berkahnya sekarang ini amat terasa,” tuturnya.

Tekad Besar
Selain menempuh pendidikan di sekolah formal, Habib Ahmad juga dimasukkan oleh orangtuanya di sebuah madrasah yang jaraknya tak seberapa jauh dari rumahnya. “Orang menyebutnya ‘sekolah Arab’. Di sana saya diajari dasar-dasar pelajaran agama oleh Habib Yahya bin Salim Al-Kaf, di samping kalau di rumah didikan ayah saya terus saya dapatkan.”

Selepas SLTA, ia masuk sebuah pesantren, masih di wilayah Tangerang, yang diasuh oleh Habib Muhammad bin Abdurrahman Alatas. Dari pesantren itu, ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren yang diasas Habib Ahmad bin Hasan Vad’aq, Bekasi, yaitu Pesantren Al-Khairat. Di pesantren yang diasuh Habib Hamid An-Nagib B.S.A. itu ia menimba ilmu dari beberapa ustadz. Selain kepada pembina dan pengasuhnya sendiri tentunya, ia juga banyak belajar kepada Habib Noval Al-Kaf (yang kini telah mendirikan pesantren sendiri di Sukabumi, Pesantren Darul Habib), Ustadz Muhammad Vad’aq (putra Habib Ahmad Vad’aq, pengasas Al-Khairat), Ustadz Zaki Mulachela, dan asatidz lainnya.

Di pesantren ini ia benar-benar menyiapkan dirinya dengan berbagai bekal untuk mencapai cita-citanya: belajar di Hadhramaut. Namun ia sendiri tidak tahu, mungkinkah ia dapat pergi ke Negeri Sejuta Wali itu.

“Uang nggak punya, persiapan nggak ada, ilmu masih ala kadarnya. Ya sudah, saat itu pokoknya saya berusaha menjadi seseorang yang seakan-akan sudah punya program jadi berangkat ke Hadhramaut. Saya hafalin dua juz Al-Qur’an, saya hafalin beberapa kitab yang menjadi syarat bagi pelajar yang mau berangkat ke sana. Bahkan saya sampai bikin paspor. Walidi masih belum tahu semua persiapan yang saya lakukan itu. Dan saya juga nggak tahu bisa berangkat apa nggak nantinya,” kisah Habib Ahmad.

Sampai akhirnya, suatu ketika, Allah pun memberi keluasan rizqi kepada orangtuanya. Hingga, dengan persediaan dana yang ada, Habib Ahmad pun merasa sudah siap seratus persen untuk berangkat ke Hadhramaut, melanjutkan pelajarannya di negeri leluhurnya itu. Sebab semua persiapan lainnya telah jauh-jauh hari ia persiapkan.

Harapan besarnya akhirnya kesampaian. Ia berangkat ke Hadhramaut. Sejak kecil, cita-citanya memang jadi orang yang berilmu agama. Ia ingat, sewaktu sekitar kelas 1 SD, kalau ada yang tanya nanti kalau sudah besar mau jadi apa, dengan tangkas Ahmad Al-Habsyi kecil menjawab, “Mau jadi kiai.”

Merasakan Kenikmatan
“Selama di Hadhramaut, saya paling senang kalau sudah masuk bulan Ramadhan. Di malam-malam Ramadhan, suasana masjid-masjid di sana luar biasa. Saat itu, kita merasakan nikmat yang luar biasa, tenggelam dalam ibadah terus-menerus,” kisah Habib Ahmad seputar masa-masa belajarnya di Hadhramaut.

Selain kenikmatan beribadah yang kondusif di negeri itu, Habib Ahmad juga merasakan nikmat dalam belajar. Di samping belajar, ia juga dididik untuk mengajar. Bahkan di samping tugas mengajar, ia juga mengajar secara privat kepada sejumlah santri.

Setelah dianggap cukup bisa terjun ke medan dakwah, setiap Kamis pagi ia dan kawan-kawan di Darul Musthafa keluar sampai malam Jum’at untuk berdakwah ke daerah-daerah Badwi, perkampungan pelosok di Hadhramaut.

“Kami disuruh membawa bekal sendiri, membawa roti. Kami dikirim ke daerah-daerah Badwi. Nggak boleh mengharap apa pun saat berdakwah di sana. Karenanya, kami pun membawa perbekalan sendiri,” kenangnya.

Saat masuk ke suatu daerah, “Kalau ada orangtua yang alim, kami datangin. Ada makam shalihin, kami ziarahin. Ada yang sakit, kami tengokin. Wallah, indah sekali,” kata Habib Ahmad. Bahkan ia sempat tugas khuruj dakwah sampai 40 hari.

Selama di Hadhramaut, ia tidak hanya belajar di lingkungan Darul Musthafa. Tapi, sebagaimana para santri lainnya yang memanfaatkan waktu mereka selama berada di Hadhramaut, ia juga mendatangi tokoh-tokoh ulama di sana, seperti Habib Hasan Asy-Syathiri, Habib Salim Asy-Syathiri, Habib Abdullah bin Muhammad Syihab, Habib Abubakar ‘Adni Al-Masyhur, Habib Muhammad bin Alwi Alaydrus (atau yang dikenal dengan sebutan “Habib Sa’ad”), dan para tuan guru Hadhramaut lainnya.

Di antara kenangan manis lain yang ia rasakan dalam masa-masa belajarnya adalah keinginannya sejak dulu untuk bertemu Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf Jeddah. Sekali waktu, ia berkesempatan menziarahi kota Makkah dan Madinah. Kesempatan itu pun sekaligus ia gunakan untuk datang ke kota Jeddah demi menjumpai tokoh besar yang selama itu hanya dilihat dari foto-foto yang beredar.

Saat ia mendatangi rumah Habib Abdul Qadir, alhamdulillah, pagar pintu sedang terbuka. Ia pun masuk ke halaman, alhamdulillah, pintu rumah pun terbuka. Ia terus masuk ke ruangan dalam, alhamdulillah, pintu ruangan dalam pun terbuka. Lalu ia menyusuri anak tangga menuju lantas atas untuk dapat menuju kamar Habib Abdul Qadir. Lagi-lagi, alhamdulillah, pintu kamar pun sedang terbuka.

Itu menjadi kenangan yang tak terlupakan baginya. Meski Habib Abdul Qadir kala itu sudah udzur dan hanya berada di atas tempat tidurnya, bagi Habib Ahmad, berkesempatan secara langsung untuk memandangi wajah sorang besar yang termasyhur akan keilmuan dan keshalihannya itu tentu merupakan karunia yang amat besar baginya.

Sewaktu kurikulum pelajaran di Darul Musthafa selesai, bersama empat kawan lainnya ia mendalami program kurikulum takhasus (pendalaman).

Singkat cerita, setelah selama beberapa tahun ia menimba ilmu di Hadhramaut, tahun 2004 Habib Ahmad pun pulang ke kampung halaman.

Sebelum kepulangannya, Habib Umar mengilbas dirinya, yaitu memakaikan imamah di kepalanya, seraya menyuruhnya agar meniatkan di dalam hati bahwa semua ini dilakukan demi dakwah mengajak umat manusia pada kebenaran, demi syiar Islam di atas muka bumi, menjaga langkah kaki untuk selalu berjalan di atas jalan salaf, dan senantiasa berbaur dengan insan-insan dakwah dari mana pun mereka berasal.

Tak Merasa Berat
Setelah pulang, pertama kali ia mengajar di mushalla tempat ayahnya mengajar sebelumnya. Jadi, apa yang dilakukannya itu tak lain untuk meneruskan dakwah orangtua.

Waktu demi waktu ia pun terus menjalani khuruj dakwah, sebagaimana yang dipesankan gurunya. Di antaranya ke Pulau Seribu, yang telah menjadi rutinitas baginya, bahkan terkadang sampai ke negeri jiran, seperti Malaysia dan Singapura, di samping undangan-undangan dakwah yang dilayangkan kepadanya.

Saat ini ia membina majelis secara berkala. Ada yang harian, seperti yang masih terus berjalan sejak awal kepulangannya dari Hadhramaut, yaitu di mushalla dekat rumahnya. Ada yang mingguan, seperti malam Jum’at, yang digunakannya selain untuk mengaji kitab sekaligus juga untuk mengajak jama’ahnya membaca kitab Maulid bersama-sama, serta pengajian umum Ahad pagi, bagi mereka yang tidak bisa hadir di malam hari. Ada juga yang bersifat bulanan.

Habib Ahmad juga aktif mengajar di beberapa masjid, majelis ta’lim, kantor, perusahaan. Kini dakwahnya melebar lintas kalangan, mulai dari kalangan awam, santri, pelajar, mahasiswa, pengusaha, hingga sampai politisi. Baginya, mereka semua adalah lahan amal baginya untuk berdakwah.

Ar-Rausyan adalah nama yang dipilihnya untuk majelis yang ia asuh. Ar-Rausyan adalah nama salah satu cabang keluarga pada qabilah Al-Habsyi, sebagai nisbah daerah asal mereka di Hadhramaut. “Supaya orang mudah mengingatnya. Itu saja.”

Mengenai terjalnya medan dakwah yang harus ia jalani, kepada alKisah ia mengatakan, “Alhamdulillah, dakwah generasi kita sekarang ini lebih enak dari generasi salaf kita. Generasi salaf itu dakwahnya berat. Sangat jauh dengan kondisi sekarang. Jadi kalau kita bilang kita saat ini dalam berdakwah itu pahit atau berat, kita malu sama salaf kita.

Kita kini, kalau masuk sebuah daerah, kita disambut. Kalau salaf kita, tak sedikit yang disambit sampai harus mempertaruhkan nyawanya. Memang di suatu daerah ada yang senang dan ada yang nggak senang sama dakwah kita, tapi tetap saja tak sebanding dengan jalan dakwah yang telah dirintis oleh para salaf. Jujur saja, kita ini belum seberapa.

Para salaf itulah yang telah membuka lahan. Sementara kita yang sekarang tinggal enak melenggang di atas lahan yang telah dibuka oleh mereka. Kalau masalah pahit, misalnya karena kita ada jalan kakinya, ada naik geteknya, itu kan hanya sesekali. Tetap saja kita lebih sering enaknya, naik mobil-lah, naik pesawat-lah.

Karenanya, sewaktu sudah enak, ketika kita masuk ke suatu daerah, kita jangan lupa untuk tetap menjaga adab. Misalnya, kalau masuk suatu daerah, kita harus sowan kepada orang-orang tua di sana. Kalau ada makam shalihin, kita ziarahi. Ada yang sakit, kita tengokin. Ada sekumpulan keluarga Alawiyyin, kita ikut kumpuli, kemudian kita saling bersilaturahim bersama mereka. Mereka akan senang luar biasa. Ini bagian dari akhlaq seorang dai yang semoga tak terlewat oleh rekan-rekan dai lainnya.”

Bagi Habib Ahmad, semua kegiatan dakwah yang dilakukannya semata-mata karena ia ingin membahagiakan hati Baginda Rasulullah SAW.

Saat ditanya apa harapan ke depannya, ia menjawab sederhana, “Ingin menjadi orang yang paling bermanfaat untuk orang lain.”

Benar yang dikatakannya, sebab Rasulullah SAW bersabda, “Yang terbaik di antara umat manusia adalah yang paling bermanfaat bagi umat manusia.”

IY