Friday, 18 May 2012

Share

Bagikan Artikel Ini

“Hidup pasti penuh risiko, ujian, dan rintangan. Tapi ingat, semua ujian itu tidak lain adalah kehendak Allah untuk menjadikan kita lebih baik dan bernilai....”

Suatu hari di akhir tahun 1998, salah seorang muhibbin di Ciganjur, Jakarta Selatan, mengadukan kepada seorang habib muda tentang salah seorang tetangganya yang kala itu sakit kritis. Warga yang diadukan itu ternyata adalah seorang ibu paruh baya yang sudah lama menderita penyakit yang dirasa aneh karena tak juga kunjung sembuh meski sudah beberapa kali dirujuk ke beberapa dokter. Karena tak kunjung sembuh, hari demi hari keadaan sang ibu pun semakin mengenaskan. Perutnya kian buncit dan membesar karena sakit yang dideritanya, namun apa daya beberapa kali berobat tetap tidak ada perubahan.

Kedatangan kepada habib muda itu dijadikan kesempatan oleh muhibbin itu untuk meminta doa darinya, dengan harapan penderitaan sang ibu paruh baya tadi dapat berakhir. Karena, dalam keyakinan mereka, doa seseorang yang dekat dengan Allah, terlebih lagi keturunan Rasulullah, lebih cepat dikabulkan.

Namun, yang dimintai doa merasa dirinya bukanlah orang yang tepat sebagainana diharapkan orang yang datang kepadanya itu. Tapi, karena didesak dan merasa iba terhadap penderitaan sang ibu paruh baya tadi, habib muda itu pun meminta kepada Allah untuk kesembuhan sang ibu. Ia kemudian mengumpulkan beberapa anak muda yang sudah mahir membaca Al-Qur’an untuk mengambil wudhu dan berdzikir. Setelah bertawassul kepada Rasulullah SAW dan para awliya’, habib muda itu pun memimpin jama’ah membaca Ratib Al-Aththas dengan niat khusus untuk kesembuhan sang ibu.

Diceritakan, dengan izin Allah, tak lama kemudian dari perut sang ibu keluar berbagai macam benda aneh, di antaranya pecahan beling, paku, kaca, dan sebagainya, yang diyakini itu semua adalah kiriman dari seseorang yang berniat jahat kepada sang ibu. Berangsur-angsur sang ibu pun kembali sehat wal afiat, sembuh dari sakit yang dideritanya.

Dengan kejadian itu, nama habib muda itu pun mulai menjadi buah bibir di tengah masyarakat sekitar Ciganjur sebagai sosok habib muda yang “dapat mengobati” penyakit, termasuk santet. Sosok muda itu tidak lain adalah Habib Hasan bin Ja`far Assegaf, pengasuh Majelis Nurul Musthofa.

Sudah Ada Mataharinya
Di sela-sela kepadatan aktivitas dakwahnya, selepas buka puasa, Habib Hasan berkenan menerima alKisah di Sekretariat Majelis Nurul Musthofa, Jln. R.M. Kahfi 1 Gg. Manggis, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan menuturkan penggalan perjalanan hidupnya hingga menjadi sosok dai yang termasyhur di Jakarta dengan Majelis Nurul Musthofa asuhannya, yang kini memiliki puluhan ribu jama’ah di seluruh penjuru Jabodetabek. Ulasan selengkapnya baca majalah alKisah edisi 18.



Muhammah Sobihullah




 

Comments  

 
0 #1 Rahmat Febriyanto 2012-01-08 22:14
Hmm...

Keluarga Assegaf, saya percaya...

Kan keluarga Assegaf selain berketurunan langsung dari Nabi muhammad dan ndak perlu diragukan lagi atas ilmu keislamannya

Dan cerita diatas adalah bukti yang kuat bahwa Allah itu maha penyayang dan pemberi kesembuhan bagi umatnya yang giat berdoa memohon kesembuhan serta berserah diri kepadanya..
Quote
 
 
+1 #2 fitri iswantoro 2012-02-21 14:50
Ass...bgm cara bs berobat di ustad asegaff...sy sudah 7 thn sakit kepala hingga pingsan setiap hari, dada,dan perut membesar...sudah berobat ke dokter dr hasil lab, USG ataupun rogent tdk ketemu penyakitnya...Bingung campur sedih...
Quote
 
 
0 #3 fitri widy 2012-02-22 11:43
Ass...bgm cara berobat dg ustad, sy sakit sdh 7 tahun setiap hour tak henti-henti, sakit kepala hingga pingsan, dada perut hingga kaki sakit....periksa lab, usg dan rongent pun tak dtemukan penyakitnya...minta tolong bantuannya tks wass
Quote
 
 
0 #4 hendri kurnianto 2012-03-13 15:47
ya habibana ya habibana abdurahman segaf...

salam silaturahmi sahabat fillah

add ane yahhh hahahaha
hendri_kurniant
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Mutiara Hadits