|
“Karena aku sangat mencintai Allah, aku yakin bahwa Allah pun mencitaiku. Bagaimana aku beribadah tanpa menanamkan rasa cintaku kepada-Nya? Maka sesuai kadar cintaku kepada-Nya aku dapatkan cinta-Nya kepadaku.”
Bumi Bashrah sudah lama tandus, tidak turun hujan. Matahari sangat terik, angin padang pasir berembus panas dan kering. Kemarau membuat penduduk gelisah. Air susah dicari, tanaman banyak yang mati, dan ternak mulai kelihatan kurus. Penduduk tidak tinggal diam. Mereka bersepakat untuk medirikan shalat Istisqa’, shalat minta hujan. Shalat itu diikuti para alim ulama dan tokoh masyarakat Bashrah, yang diimami salah seorang ulama terkenal di antara mereka. . Dengan kehadiran para alim ulama terkemuka, shalat Istisqa’ ini dianggap sesuatu yang istimewa. Mereka berpikir, Allah tentu akan mengabulkan permintaan mereka. Mereka yakin, hujan akan segera turun. Setelah selesai shalat Istisqa' dua rakaat dan khutbahnya, ternyata tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, tidak ada mendung, tidak ada awan, bahkan matahari semakin terik.
Timbul pertanyaan, mengapa hujan tidak turun? Sedangkan mereka shalat bersama para alim ulama Bashrah. Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan shalat Istisqa’ yang kedua kalinya, dengan harapan Allah mengabulkan doa mereka.
Selesai shalat yang kedua, keadaanya masih sama. Tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, tidak ada mendung. Tidak ada tanda-tanda doa mereka dikabulkan. Matahari masih tetap terik.
Para alim ulama dan masyarakat semakin bertanya-tanya, apa sebabnya tidak turun hujan? Kemudian disusul dengan shalat Istisqa' yang ketiga. Tapi, masih tetap tidak ada tanda-tanda turun hujan.
Para ulama mulai gelisah. Dan akhirnya seluruh penduduk dan ulamanya pulang ke rumah dengan tangan hampa. Hanya satu orang sufi yang tidak pulang. Dialah Malik bin Dinar*.
Ia duduk di lapangan beberapa saat, kemudian pergi ke masjid, yang tidak jauh dari lapangan. Ia duduk di masjid sampai larut malam.
Tiba-tiba ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang ke dalam masjid. Orang itu berkulit hitam dan penampilannya sangat sederhana. Ia memakai sarung dan baju dari kulit domba. Malik mengamati gerak-geriknya dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan di larut malam seperti itu.
Orang tersebut pergi ke tempat wudhu lalu menuju mihrab. Ia kemudian mengerjakan shalat dua rakaat. Shalatnya pun tidak terlalu lama, surah yang dibaca tidak panjang. Begitu pula qiyam, ruku’, dan sujudnya, sekadar tuma'ninah. Selesai shalat, orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit sambil berdoa.
Malik bin Dinar mendengar isi doa yang ia panjatkan dengan nada yang tidak terlalu keras tapi bisa didengar orang. “Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu telah datang berkali-kali kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikit pun dari kekuasaan-Mu. Apakah rahmat dan belas kasihanmu terhadap mereka telah habis? Atau jika kamu kabulkan harapan mereka akan mengurangi kekuasaan-Mu? Ya Allah, aku bersumpah demi nama-Mu dan kecintaan-Mu kepadaku, turunkanlah hujan kepada kami dengan secepatnya.” Setelah doa dibaca oleh orang tersebut, angin dingin datang dengan sekerasnya, awan pun mendung, bumi mejadi gelap gulita dan suara halilintar terdengar dengan keras.
Tidak lama kemudian, hujan turun dengan lebatnya. Dengan seketika bumi Bashrah menjadi basah. -
 Malik bin Dinar tercengang menyaksikan keadaan tersebut. Ia menunggu hingga orang itu selesai dari munajatnya lalu menghampirinya dan berkata, “Wahai pemuda, kamu tidak malu kepada Allah dengan dengan isi doa yang kamu bacakan tadi?"
Pemuda itu bertanya, “Isi doa yang mana yang Tuan maksudkan?”
Malik bin Dinar berkata, “Doa yang kamu baca bahwa Allah mencitaimu. Apakah kamu memang yakin bahwa Allah mencintaimu?” Lalu orang itu menjawab dengan singkat, “Karena aku sangat mencintai Allah, aku yakin bahwa Allah pun mencitaiku. Bagaimana aku beribadah tanpa menanamkan rasa cintaku kepada-Nya? Maka sesuai kadar cintaku kepada-Nya aku dapatkan cinta-Nya kepadaku.”
Setelah itu, ia segera pergi.
Namun Malik bin Dinar mencoba menahannya. “Tunggu sebentar. Aku ingin tahu, siapa kamu itu sebenarnya?
“Aku adalah seorang pembantu yang mempunyai kewajiban untuk mentaati perintah majikanku,” jawabnya. Akhirnya Malik mengikutinya dari jauh. Pemuda itu memasuki rumah orang kaya di Bashrah.
Pagi harinya ia segera menuju rumahnya dan menanyakan apakah orang kaya itu ingin menjual pembantunya.
Orang kaya itu berkata, “Ambillah budak ini. Terserah berapa saja kamu ingin bayar harganya. Ia tidak berguna bagiku, karena malam ia habiskan waktunya untuk menangis dan siang untuk shalat dan puasa." Kemudian Malik bin Dinar menuntun tangan pemuda tadi dan membawanya ke rumahnya.
Di tengah jalan ia meminta untuk mampir ke masjid.
Setibanya di masjid, ia berwudhu dan terus mengerjakan shalat sunnah dua rakaat.
Malik bin Dinar mengamatinya. Ia ingin tahu, apa yang akan dilakukan pemuda itu.
Selesai shalat, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa seperti yang dilakukannya malam sebelumnya. Tetapi kali itu dengan doa yang berbeda. “Ya Allah, rahasia antara aku dan Engkau telah diketahui oleh semua makhluk. Bagaimana aku bisa hidup dengan tenang di dunia ini karena telah ada orang ketiga menjadi penghalang antara aku dan diri-Mu. Aku bersumpah demi kecintaan-Mu kepadaku, cabutlah nyawaku sekarang juga.” Setelah menurunkan kedua tangannya, pemuda itu sujud.
Malik bin Dinar mendekatinya, menunggu dia bangun dari sujudnya. Tetapi ia sujud agak lama dan tidak bangun-bangun.
Malik menggerakkan badannya, tapi... ia sudah tidak bernyawa lagi. Subhanallah.
Wallahu 'alam.
Hasan Husen Assagaf
*Malik bin Dinar adalah seorang tabi'in yang hidup di zaman Hasan Al-Bashri, bahkan ia adalah salah seorang muridnya. Ia terhitung sebagai seorang sufi, ilmuwan, yang zuhud dan rendah hati. Ia adalah orang yang suka merendah dan tidak mau makan kecuali dari hasil kerjanya sendiri. Dan kerjanya adalah menulis mushaf dengan upah. Ia juga ahli hadits yang diriwayatkan dari tokoh-tokoh hadits di masa lampau, seperti Anas bin Malik, Ibnu Sirin, dan lain-lain. Malik bin Dinar meninggal sekitar tahun 130 H, bertepatan dengan tahun 748 M. Doanya yang populer, “Ya Allah, janganlah Kamu masukkan apa pun ke dalam rumah Malik bin Dinar.”
|