Thursday, 24 April 2014
Home Maulid di Majelis Ta’lim Raudhatul Habib SAW: Srengseng Bershalawat

Terbaru di Website

K.H. Yusuf Aman Tak Berhenti Belajar
21/04/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Meskipun memiliki kesibukan yang cukup padat dengan beragam kegiatan, ia masih memendam obsesi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-3.   Di antara mereka yang telah sibuk mengajar ilmu-ilmu agama, baik di lemb [ ... ]


Other Articles

Dunia Islam

Humor Sufi - Adu Kesombongan
20/04/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

"saya baru bisa melihat sukses atau tidak hidup saya, miskin atau kaya, nanti di akhirat. Jadi, saya tidak bisa sombong sekarang." Tiga orangtua sedang berkumpul di sebuah rumah seorang kiai. Ketiga [ ... ]


Artikel Lainnya

Zawiyah

Menyikapi Kelakuan Bapaknya Anak-anak
03/03/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Pak Ustadz, perkenankan saya, ibu rumah tangga dengan tiga anak, ber­tanya dalam forum ya [ ... ]


Artikel Lainnya

Tamu Kita

K.H. Yusuf Aman Tak Berhenti Belajar
21/04/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Meskipun memiliki kesibukan yang cukup padat dengan beragam kegiatan, ia masih memendam obsesi untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-3.   Di antara mereka yang telah sibuk mengajar ilmu-ilmu agama, baik di lemb [ ... ]


Other Articles

Kitab Kuning

Larangan-larangan Haji dan Umrah
14/04/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Pada kajian kali ini pengarang masih menjelaskan ihwal haji. Yang diterangkannya berikut ini adalah tentang hal-hal yang [ ... ]


Other Articles

Konsultasi Agama

Zakat Pekerja
11/04/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya ingin bertanya tentang zakat. Apakah para pekerja (buruh) pabrik atau pekerja lainnya y [ ... ]


Artikel Lainnya

Bahasa & Agama

Atas Nama Allah...
04/03/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Ketika seseorang bersumpah, sering digambarkan misalnya dengan kalimat “Dia bersumpah atas nama Allah”. Tepatkah penggunaan kata-kata “atas nama Allah”?


Other Articles

Mutiara

Radio alKisah

Waktu Sholat

Kitab Hadits Online

Who's Online

We have 84 guests online

mp3 flash player by undesign website design.

Pemenang Lomba Kisah Santri

Kisah Santri : Ashaabul Kuukh
26/02/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Hari pertama ujian lisan bermacam-macam persiapan yang kami lakukan. Karena khawatir terlambat, ada yang datang ke ruang ujian setelah selesai melaksanakan shalat Subuh. Tapi pada umumnya satu jam seb [ ... ]


Other Articles

Kajian Hadits

Adab Tidur dan Duduk
08/04/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Di antara hal yang mendapat perhatian Rasulullah SAW ialah posisi tidur dan duduknya seorang muslim. Apa saja yang diu [ ... ]


Other Articles

Fiqhun Nisa

Pakai Kutek dan Potong Kuku
08/04/2014 | Redaksi Online
article thumbnail

Assalamu ‘alaikum wr. wb. Ustadz, saya seorang mahasiswi muallaf dan baru belajar Islam. Sewaktu belum masuk Islam, s [ ... ]


Artikel Lainnya
 
 
Maulid di Majelis Ta’lim Raudhatul Habib SAW: Srengseng Bershalawat PDF Print E-mail
Tuesday, 14 June 2011 15:37

Maka, bayangkanlah, sebelum wujudnya ada, Nabi Muhammad SAW sudah disebut-sebut dengan penuh kemuliaan dalam berbagai kitab samawi....


Sabtu malam (21/5) menjadi malam yang sangat membahagiakan bagi Majelis Dzikir wat Tadzkir Raudhatul Habib SAW, khususnya bagi Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi dan keluarga serta masyarakat sekitar.

Jalan Mawar, yang tergolong jalan kecil dan sepi di perkampungan Srengseng Kembangan, Jakarta Barat, berubah menjadi ramai oleh lautan manusia. Selepas maghrib, ribuan jama’ah, laki-laki dan perempuan, sudah tumplek blek memenuhi gang-gang di kecamatan paling barat di ibu kota Jakarta. Ya, malam itu selepas isya diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Yang menjadi magnet dalam peringatan itu tidak lain kehadiran Habib Syeikh bin Abdul Qadir Assegaf dan rombongan hadhrah Maulid Simthud Durar Ahbabul Musthafa dari Solo.

Sejumlah tokoh ulama habaib dan aparatur pemerintah tampak hadir. Di antaranya Menteri Kelautan dan Perikanan Ir. Fadel Muhammad, Wakil Menteri Agama Prof Dr. H. Nasaruddin Umar, Wakapolda ................, Kapolres Jakarta Barat ............................. Di kalangan tokoh habaib, Habib Umar bin Abdullah Alatas, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, Habib Syihabuddin bin Husein Bin Syihab, Habib Ali Bin Sahil, Habib Abdullah Al-Kaf, Habib Jindan bin Novel Bin Jindan, Habib Muhsin Al-Hamid, dan sejumlah tamu habaib dan ulama dari Hadhramaut dan Mesir, yang adalah rombongan Habib Ali Abdurrahman Assegaf.

Dalam sambutannya mewakili aparatur pemerintah, Menteri Kelautan Ir. Fadel Muhammad menekankan pentingnya jalinan hubungan ulama dan umara dalam pembinaan umat dan masyarakat, apalagi masyarakat Indonesia umumnya muslim.

Langkah yang kini menjadi kebijakannya selaku menteri terkait adalah melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat pecinta majelis ta’lim dan Maulid, yang tidak semata mendapatkan ilmu dari sang guru, seperti Habib Alwi Al-Habsyi, tapi juga kesempatan melakukan peningkatan taraf ekonomi, seperti dengan pembibitan ikan lele di pekarangan majelis dan rumah masing-masing, sehingga berimbanglah kehidupan jasmaniyah dan ruhiyah.

Menteri juga merasa takjub dengan begitu banyaknya jama’ah yang menghadiri majelis malam itu, sehingga ia akan melaporkan kepada Presiden SBY bahwa potensi umat semacam ini tidak bisa diabaikan untuk pembangunan bangsa ke depan.

Dalam sambutannya selaku tuan rumah, Habib Alwi tiada henti-hentinya mengucapkan puji syukur ke hadhirat Allah SWT, karena dengan iradah-Nya acara berlangsung dengan penuh kekhusyu’an. Habib muda yang tawadhu’ ini juga mengucapkan salam ta’zhimnya kepada para habib sepuh dan sebaya, jama’ah yang datang dari berbagai penjuru, serta perhatian dan bantuan masyarakat sekitar. Lebih khusus lagi, bantuan puluhan majelis ta’lim yang diasuh Habib Alwi di berbagai tempat.

Saat pembacaan Maulid Simthud Durar, yang diselingi qashidah, oleh Habib Syeikh, jama’ah begitu antusias mengikutinya. Bahkan ada beberapa jama’ah yang berdekatan dengan alKisah menitikkan air mata karena begitu terharu.

Ukur Cintamu
Dalam taushiyahnya, Habib Syihabuddin bin Husein Bin Syahab menerangkan kemuliaan kedudukan Rasulullah SAW. Beliau suatu ketika menyatakan perihal dirinya, “Innama ana rahmatun muhdats (Sesungguhnya aku adalah rahmat yang didatangkan bagi kalian).” Jadi, Rasulullah SAW adalah rahmat bagi seluruh makhluk, guru paling agung, yang kepadanya diserahkan kebesaran kenabian dan kerasulan.

Sebagaimana dikisahkan, seorang a’rabiy bertanya kepada beliau, “Ada di mana Tuhan kita, ya Nabi? Kalau jauh, aku akan memanggil-Nya. Kalau dekat, aku akan berdoa di hadapan-Nya?”

Beliau dengan tertunduk lalu meminta kepada Jibril AS, dan Jibril menjelaskannya dengan turunnya ayat “idza sa-alaka ‘ibadi ‘anni fa inni qarib.... (dan seterusnya), yang artinya “....................”.

Kebesaran Muhammad SAW juga dikisahkan seorang pendeta Nasrani yang tengah menyebut sesosok utusan Tuhan setelah Isa AS, yang kemudian ditanya Abu Jahal, “Demi Tuhanmu, siapakah nabi yang engkau maksud itu, wahai pendeta?”

Si pendeta menjawab, “Nabiyyun muayyad, qad ana hina yujad, yub’atsu lil ahmar wal aswad, ismuhu Muhammad... ismuhu Muhammad, wa habibukum Muhammad.... (Seorang nabi yang diberikan kekuatan, telah dekat waktunya tiba, diutus bagi semua jenis manusia, namanya Muhammad, namanya Muhammad, kekasih kalian Muhammad....).”

Maka, bayangkanlah, sebelum wujudnya ada, Nabi Muhammad SAW sudah disebut-sebut dengan penuh kemuliaan dalam berbagai kitab samawi, bahkan juga pembicaraan umat-umat terdahulu. Dan pendeta Nasrani itu dengan penuh keharuan menyebutkan siapa sosok Nabi Muhammad SAW di hadapan Abu Jahal. Subhanallah.

Betapa mulianya Rasulullah SAW, di mata manusia terdahulu hingga sekarang. Maka bagaimana kita meneladani kemuliaan beliau? Kita tidak boleh berpaling dari Rasul SAW dan para ulama, yang mewarisi ilmu dan akhlaq beliau. Kita tidak boleh berpaling dari dzurriyyah Rasulullah SAW. Jangan kita jauh dari majelis ta’lim, jauh dari guru-guru kita. Ikuti jalan-jalan mereka, karena mereka yang paling pantas diikuti. Sebab, hidup kita di alam dunia tidaklah lama, dan bahkan banyak di antara kita yang menghabiskan usia dengan hal yang sia-sia. Dalam suatu syair dikatakan:

Kullu bakin sayubka
Kullu na’in sayun’a
Kullu madzkurin sayunsa
Kullu madfunin sayafna
Wa laysa ghairullahi yabqa

Setiap yang menangis akan ditangisi
Setiap yang menggotong keranda kelak akan digotong
Setiap yang disebut-sebut namanya kelak akan dilupakan
Setiap bangkai yang dikubur akan punah
Dan tidak ada yang kekal abadi melainkan Allah SWT


Maka bagaimana kita meninggalkan alam dunia tanpa mengikuti penghulu dunia dan akhirat, nabi kita, Muhammad SAW? Uji cintamu dan kecintaanmu kepada beliau. Apakah diri kita telah mengikuti bayangannya, apakah ikrar kecintaan kita dilalui dengan menapaki jalannya dan jalan-jalan ulama yang menjadi pewarisnya?

Habib Syihabudin juga menerangkan keutamaan para shahabat Nabi dan keluarganya, seperti Sayyidina Ali dan kedua putranya, dengan penuh dengan keharuan.

Ia pun mengingatkan ihwal sikap hormat kepada guru. Saat ini, menurutnya, banyak anak muda yang berani melawan gurunya, karena merasa lebih pintar dari sang guru. Padahal, gurunyalah dulu yang mengajarinya a ba ta....

Habib Syihabudin lalu mengisahkan, ada seorang Badwi yang mendapati anak seekor anjing liar yang telantar. Lalu anak anjing itu dibawa pulang dan disusukan ke kambing betina yang tengah menyusui anak-anaknya.

Kemudian anak anjing itu tumbuh besar dan muncul sifat-sifat naluri membunuhnya. Hingga suatu malam, anak anjing yang telah dewasa itu memakan ibu susunya, yakni kambing betina tersebut.
Melihat hal itu, si Badwi ini bersyair:

Kamu bedah itu kambing yang menyusuimu Bukankah aku sudah mengatakan bahwa engkau itu anjing
Sudah dididik dirimu dengan kehangatan
Namun memang dasar engkau anjing
Anjing adalah anak anjing


Demikianlah, bila seorang murid sudah berlaku tak beradab kepada gurunya, ia tidak lebih dari seekor anjing seperti dalam kisah itu. Wal ‘iyadzu billah.

Habib Syihabuddin mengajak jama’ah merenungi kesempatan Maulid yang selalu dihadiri jama’ah, sejauh mana kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW, kecintaan kepada Allah SWT, dengan menjalani syari’at yang diperintahkan-Nya. “Jadilah kita manusia yang selalu memperbaiki dan menempa diri agar menjadi jama’ah Rasulullah yang terbaik,” katanya menutup ceramah.
Acara berakhir pada pukul 24.00 WIB, ditutup dengan talqin, yang dibacakan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, dan doa, oleh seorang syaikh dari Mesir.

Sebagai majelis pengajian dan dzikir, Majelis Raudhatul Habib SAW, yang diasuh Habib Alwi bin Abdurrahman Al-Habsyi, senantiasa menggelar pengajian secara rutin pada setiap Kamis malam dan Ahad pagi, dengan mengkaji sejumlah kitab, di antaranya  Risalatul Mu’awanah dan Sabilul Iddikar, buah karya Al-Imam Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.

Ahmad Baihaqi