Sunday, 19 May 2013
Home Tamu Kita Drs. H.M. Ichwan Sam: Administratur NU yang Andal
Drs. H.M. Ichwan Sam: Administratur NU yang Andal PDF Print E-mail
Tuesday, 19 June 2012 15:50

 

majalah alkisah, majalah islami, majalah islam, majalah islam online"Saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa orang bisa berorganisasi yang baik tanpa intensitas kehadiran yang cukup, baik fisik maupun pikirannya."

 

 

 Selama ini mungkin kita berpikir bahwa yang sangat berperan di organisasi NU hanyalah para kiai. Pikiran demikian adalah wajar, karena sejak masa pendiriannya di tahun 1926 hingga perkembangannya sampai kini peran kiai sangat dominan. Namun, selain para kiai, dalam perkembangannya kemudian peran para tokoh politik juga cukup penting, meskipun sebagian besar di antara mereka sesungguhnya para kiai juga.

 Di luar itu, tak banyak yang tahu bahwa ada sosok-sosok lain yang juga memainkan peran penting dan berjasa dalam membenahi NU sebagai organisasi. Di antara mereka ini ada satu sosok yang sangat dikenal kiprahnya dalam menata masalah administrasi dan manajemen di organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Dialah Drs. H.M. Ichwan Sam, yang ketika menjadi sekjen PBNU bersama dengan jajaran pengurus lainnya melakukan pembenahan besar-besaran yang hasilnya benar-benar dapat dirasakan kemudian. Selain di NU, ia juga lama berkiprah di MUI Pusat. Sejak beberapa periode hingga kini ia menjadi sekretaris umum MUI.

Ketika ia mulai bertugas sebagai sekjen di PBNU, suasana kantor masih semrawut. Kotor, kumuh, dan tidak sedap dipandang. Ditambah lagi beberapa oknum karyawan dan aktivis badan otonom bebas menguasai sudut-sudut kantor dengan membuat bilik-bilik kecil di pojokan, lalu tinggal dan makan di situ seperti rumah sendiri. Mereka tidak mau diusik, karena merasa dekat dengan tokoh NU tertentu.

Administrasi kantor juga masih sangat kacau. Surat-menyurat dari pengurus-pengurus cabang dibuat seadanya. Jenis kertas, amplop, warna tinta stempel, tak beraturan. Belum ada ketentuan baku mengenai ukuran kertas, stempel, panjang dan lebar bendera, jenis dan warna tinta, dan sebagainya. Semuanya masih bergantung pada selera masing-masing pengurus NU di daerah.

Melihat semua pemandangan itu, Ichwan, yang terbiasa dengan keteraturan dan ketertiban, tidak bisa tinggal diam. Nalurinya sebagai seorang administrator bangkit. Sebagai seorang sekjen yang baru, ia tertantang untuk membenahi semua itu. Lewat usahanya yang tak kenal lelah dan dibantu beberapa pensiunan polisi yang ia angkat sebagai satpam, akhirnya wajah kantor PBNU, meskipun masih kantor yang lama, bukan yang sekarang terlihat megah itu, bisa tampak berseri. Berkat polesan cat, lampu-lampu, kebersihan dan pembenahan ruang-ruang yang ada, suasananya menjadi sedap dipandang. Administrasi juga ditata sedikit demi sedikit. Diterbitkanlah kemudian buku Panduan Penyelenggaraan Organisasi dan Administrasi (PPOA) NU, yang akhirnya menjadi standar baku.

 majalah alkisah, majalah islamDi waktu kecil, sang ayah, yang menjadi carik (sekretaris desa) di masa itu, sering melibatkan Ichwan dalam pekerjaan-pekerjaannya. Ia sering diminta mengerjakan sebagian tugas-tugas ayahnya. Padahal, saat itu ia masih duduk di kelas VI SD. Tidak tahu maksudnya apa. Mungkin agar pekerjaannya sedikit terbantu. Yang jelas, ayahnya lebih sering mempercayakan sebagian pekerjaannya kepadanya dibandingkan kepada bawahannya di kantor desa. 

Begitulah dari tahun ke tahun ia semakin sering dimintakan bantuannya menyelesaikan tugas-tugas ayahnya. Pada dasarnya ia menerima tugas itu dengan perasaan suka, karena pelimpahan tugas itu berarti sebuah kepercayaan dari orangtua kepadanya. Tetapi terkadang muncul juga perasaan tidak suka jika kebetulan pada saat yang sama ia memiliki janji dengan teman-temannya, misalnya bermain bola dan sebagainya.

Teman-temannya kemudian tahu akan pengalaman dan kemampuannya membantu sang ayah. Maka kemudian ia pun diminta menjadi sekretaris di sekolahnya, dan itu berlanjut terus dari sekolah ke sekolah berikutnya hingga kuliah dan terus di organisasi-organisasi yang dimasukinya. Sejak sekolah dan seterusnya, jabatan sebagai ketua atau jabatan lain pun pernah beberapa kali disandangnya, tetapi yang terbanyak adalah sebagai sekretaris, termasuk sekretaris jenderal dan sekretaris umum. Kepercayaan-kepercayaan itu pun kemudian diterimanya bukan hanya dengan penuh tanggung dan senang hati, melainkan juga dengan kesadaran untuk belajar lebih banyak.

Berbagai hal ia lakukan untuk itu. Mulai dari banyak membaca hingga mengikuti berbagai kursus dan diskusi. Semua pengalamannya itu membuatnya tahu bagaimana mengelola organisasi nirlaba, bagaimana menata sebuah gerakan, dan sebagainya.

Ada pula kebiasaan positifnya sejak kecil yang sangat membantu dalam menangani tugas-tugas keorganisasiannya. Ia suka mencatat dan meringkas. Jika kiainya sedang mengajar dan menjelaskan sesuatu, hal-hal penting selalu dicatatnya. Sedangkan di waktu belajar dan mengulang-ulang pelajaran, baik untuk menghadapi ujian maupun tidak, ia tidak hanya membaca. Melainkan selalu membuat ringkasan. "Sama sekali bukan untuk mencontek, melainkan agar lebih dapat menguasai."

Kebiasaan-kebiasaannya itu terus berlanjut dan terbawa dalam organisasi yang digelutinya, termasuk di NU. "Setiap kali saya mendengarkan pembicaraan para tokoh kiai dan cendekiawan, seperti K.H. Achmad Siddiq, K.H. Ali Yafie, Gus Dur, selalu saya catat poin-poin penting dari pembicaraan mereka." Dan itu bukan hanya di NU. Di mana pun dan dalam kesempatan apa pun, ia selalu siap mencatat hal-hal yang penting.  

Ichwan juga menyadari bahwa orang-orang menuntut seorang sekretaris mengetahui segala sesuatu tentang organisasinya. Ia ingin dapat memenuhi harapan tersebut, bahkan lebih dari itu. "Saya ingin memberikan yang terbaik untuk ketua dari organisasi yang saya tangani," katanya dengan sungguh-sungguh. 

Profesionalisme dalam berorganisasi, apalagi organisasi yang besar, sangat ditekankan olehnya, termasuk masalah kehadiran, yang biasanya tidak terlalu diperhatikan orang. "Saya termasuk orang yang tidak percaya bahwa orang bisa berorganisasi yang baik tanpa intensitas kehadiran yang cukup, baik fisik maupun pikirannya," begitu pandangannya.

Menurutnya, kehadiran itu sangat penting, karena dengan demikian organisasi bisa dikawal sebagaimana tujuan organisasi yang semestinya. Juga bisa secepatnya mengetahui dan memahami problem-problem yang ada, sehingga bisa segera pula dilakukan upaya-upaya untuk mengatasinya.

Ichwan menyadari bahwa, dalam organisasi seperti NU, pengabdian memang merupakan hal yang sangat menonjol. Ini sesuatu yang positif, tetapi baginya tidak cukup. Pengabdian harus disertai profesionalisme. Karena kalau hanya pengabdian, apalagi hanya ditujukan kepada tokoh-tokoh kiainya, bukan kepada umat secara keseluruhan, peran dan tanggung jawab dalam organisasi hanya dilakukan pada saat-saat tertentu.

 

Ichwan Sam lahir di Sawangan, Batang, Pekalongan, pada 1 Januari 1951. Ia anak pertama dari lima bersaudara. Ayahnya, Samsoeri, adalah seorang carik, sedangkan ibunya, Siti Badriyah adalah aktivis Fatayat NU dan kemudian Muslimat NU. Ya, Ichwan kecil hidup dalam keluarga NU yang terkemuka di desanya.

Pendidikannya dimulai dari SDN di Sawangan yang diselesaikannya tahun 1963. Kemudian ia melanjutkan ke Pesantren Al-Hidayah Kendal sambil meneruskan di PGA NU hingga tahun 1968. Tamat PGAN Salatiga tahun 1971 ia mengikuti kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, hingga rampung tahun 1978.

Sejak ramaja ia dikenal sebagai aktivis organisasi. Semasa duduk di PGA NU ia sudah aktif sebagai pengurus IPNU Anak Cabang Grinsing (1966-1969). Setahun kemudian menjadi wakil sekretaris IPNU cabang Salatiga dengan MM Billah sebagai ketuanya (1969-1970).

Semasa kuliah di IAIN Sunan Kalijaga ia pun aktif di PMII. Ia antara lain juga pernah menjadi ketua Komisariat PMII Fakultas Tarbiyah (1971-1972), wakil ketua Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah (1971-1972).

Selain itu ia juga pernah menjadi sekjen Dewan Mahasiswa IAIN Yogyakarta (1972-1975), aktif dalam Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI) Cabang Yogya (1973-1976), ketua umum Lembaga Pengembangan dan Pembinaan Pers Mahasiswa (LP3M) IAIN Yogya (1974-1976), anggota pengurus DPD KNPI Yogya (1975-1977), dan anggota Presidium Forum Mahasiswa Yogyakarta (1977-1978).

Ketika pindah ke Jakarta ia langsung aktif di PP GP Ansor. Berbagai posisi ditempatinya, mulai dari ketua departemen, salah seorang ketua PP Ansor, hingga menjabat ketua Dewan Pembina. Ia juga menjadi salah seorang anggota Majelis Pemuda Indonesia/DPP KNPI (1986-1989).

Selain aktif di NU, ia juga aktif di MUI. Di MUI Pusat mula-mula ia duduk sebagai sekretaris hingga dua periode (1995-2005), dan sejak 2005 ia menjadi sekretaris umum MUI Pusat hingga sekarang.

Sebagai lokomotif organisasi MUI ia melakukan berbagai penertiban dan inovasi. Mulai dari pembenahan SDM, hingga menggerakkkan roda dan mekanisme organisasi MUI, di pusat maupun di daerah. Ia dikenal sebagai pengurus yang rajin terjun ke daerah.

 

Di NU, pengalamannya terbilang lama. Ia pernah menjadi ketua Departemen Penerangan PP GP Ansor (1979-1986) ketika ketua umum PP GP Ansor dijabat Drs. H.A. Chalid Mawardi, menjadi anggota Pengurus Pleno PBNU (1984-1989) di saat ketua umum PBNU dijabat K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) periode pertama. Ia juga menjadi ketua PP LTN NU yang pertama (1984-1994).

Pada masa itulah, bersama dr. H. Fahmi Saifuddin, M.P.H., yang menjadi salah satu ketua PBNU, ia melakukan pembenahan besar-besaran administrasi PBNU. Selain menata ruangan, ia juga membuat buku pedoman organisasi. Di antaranya membakukan ukuran stempel, jenis dan ukuran kertas, warna tinta, ukuran bendera, tertib administrasi, dan sebagainya. Sejak masa itu dilakukan penyeragaman administrasi di lingkungan NU secara nasional.

Saat menjabat sekjen PBNU ia juga duduk sebagai anggota Tim Pendiri BPR di lingkungan NU (1992-1994). Kala itu Ketua Umum PBNU K.H. Abdurrahman Wahid mencanangkan pembentukan 2.000 BPR NU di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk mengangkat perekonomian warga NU.

Ichwan tidak tertarik memasuki dunia politik. Sejak mahasiswa ia tidak pernah bersinggungan dengan dunia politik, baik menjadi anggota maupun pengurus parpol. Ia lebih suka mengajar. Ia pernah menjadi staf pengajar di Akademi Teknologi Komputer dan Manajemen (ATKM) Jakarta (1982-1986) dan di Universitas Islam As-Syafi`iyyah (1982-2000).

Tanpa direncanakan dan memang bukan menjadi ambisinya, tahun 1997 namanya masuk ke Senayan menjadi anggota MPR RI dari FKP (1997-1999). Hasil Pemilu 2004 kembali mengantarkan dirinya masuk ke gedung yang sama menjadi anggota DPR RI dari FPG hingga tahun 2009.

Di luar pengalaman organisasi, ia pun lama menjadi seorang wartawan, dan kini juga seorang pengusaha. Sejak kuliah di IAIN ia telah aktif di penerbitan kampus. Bersama para sahabatnya ia mendirikan toko buku "Batas Kota". Ia juga menjabat pemimpin umum Majalah Arena, hingga majalah itu terpilih sebagai majalah mahasiswa terbaik tingkat nasional versi IPMI (1975-1978). Kemudian ia menjadi wartawan Pelita di Jakarta sejak 1978. Kariernya terus menanjak di Pelita hingga menjadi redaktur pelaksana (1987-1992) dan asisten pemimpin umum.

Dalam usaha keluarga ia menjadi komisaris PT Alifya Citra Busana, yang bergerak di bidang konveksi, dan PT Alifya Communications, yang menangani publikasi dan PR. Semua posisi itu tetap dipegangnya hingga sekarang.

Dunia organisasi dan kewartawanan mengantarkan dirinya memiliki banyak pengalaman kunjungan ke luar negeri. Di antaranya sebagai peserta pertemuan mahasiswa ASEAN di Malaysia (1975), workshop wartawan Asia tentang lingkungn hidup di Bangkok (1980), Forum Pemuda ASEAN di Singapura (1980), anggota TPHI di Arab Saudi (1982), menghadiri undangan Nippon Gaimusho di Jepang (1982), undangan peringatan hari pariwisata Korea Selatan (1985), anggota delegasi pemuda Indonesia dalam perkemahan pemuda sedunia di Mesir (1985).

Ia juga pernah menjadi salah satu dari lima orang anggota delegasi pemuka umat Islam Indonesia ke Malaysia, Kuwait, Bahrain, dan Arab Saudi (1987), menghadiri kongres tahunan pemimpin Islam sedunia di Baghdad (1988), anggota delegasi ke Darul Ifta Rabithah Alam Islamy dan OKI di Arab Saudi (1989), peserta Ijtima` Ulama se-Asia Tenggara di Kotabaru, Malaysia (1996), anggota delegasi ulama Indonesia ke Malysia dan Thailand untuk studi banding penanggulangan HIV/AIDS (1997), memberikan penyuluhan kepada para TKI/TKW di Hong Kong, Cina, Taiwan, Korea Selatan, dan Malaysia (1999), dan anggota Amirul Haj ke Arab Saudi (2001).

Di samping itu ia juga pernah menjadi anggota delegasi MUI ke Libya, Australia, New Zealand, Eropa, dan Amerika Serikat (2005). Ia juga adalah anggota delegasi Indonesia ke pertemuan ulama di Cairo, Mesir (2006), anggota delegasi pemuka Islam Indonesia ke Vatikan, Roma (2006).

Ia pun pernah berkunjung ke Palestina, Israel, Syria, Lebanon, Yordania. Kurang lebih 60 negara telah ia jelajahi selama kariernya, baik di organisasi maupun yang lainnya.

AY

Lama di NU

Sekretaris Umum MUI

Mencatat dan Meringkas

Last Updated on Tuesday, 19 June 2012 16:10
 

Add comment


Security code
Refresh