Monday, 20 May 2013
Home Tamu Kita K.H. Agus Dermawan: Mesra dengan Pencipta, juga Sesama
K.H. Agus Dermawan: Mesra dengan Pencipta, juga Sesama PDF Print E-mail
Wednesday, 11 July 2012 12:15

majalah islam, majalah islam online, majalah alkisahHablul minallah dan hablul minnanas harus dijalankan oleh umat muslim secara bersamaan, agar tercipta keharmonisan.

Pada suatu kesempatan, alKisah berhasil mewawancarai K.H. Agus Dermawan, tamu kita kali ini. Di tengah kesibukannya menjelang keberangkatan umrah ke Tanah Suci, ia menyempatkan diri berbagi harapan seputar agama dan bangsa ini, yang semakin individualis.

Ia menyitir konsep ukhuwwah (persaudaraan). Ada tiga macam ukhuwwah, yaitu ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwwah basyariyah (persaudaraan antar-umat manusia). Ukhuwwah basyariyah bisa juga disebut ukhuwwah insaniyah.

Pada konsep ukhuwwah Islamiyah, seseorang merasa saling bersaudara karena sama-sama memeluk agama Islam. Umat Islam yang dimaksud bisa berada di belahan dunia mana pun. Dalam konsep ukhuwwah wathaniyah, seseorang merasa saling bersaudara karena merupakan bagian dari bangsa yang satu, misalnya bangsa Indonesia. Ukhuwwah model ini tidak dibatasi oleh sekat-sekat seperti agama, suku, jenis kelamin, dan sebagainya. Adapun, dalam konsep ukhuwwah basyariyah, seseorang merasa saling bersaudara karena merupakan bagian dari umat manusia yang satu, menyebar di berbagai penjuru dunia. Dalam konteks ini, semua umat manusia sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Ukhuwwah basyariyah juga tidak dibatasi oleh baju dan sekat-sekat primordial, seperti agama, suku, ras, bahasa, jenis kelamin, dan sebagainya.

Dalam Islam ada istilah hablul minallah dan hablul minannas. Kedua ini harus dijalankan oleh umat muslim secara bersamaan. Tidak hanya mementingkan hablul minallah namun mengabaikan hablul minannas, begitu juga sebaliknya, agar tercipta keharmonisan.

Rasulullah SAW sendiri pernah melarang seseorang yang ingin mengabdikan dirinya untuk beribadah selamanya hingga menghadap Allah Azza wa Jalla. Ini dinilai berlebih-lebihan dan menafikan  jenis ibadah lainnya, yakni perkara dunia. Dalam satu riwayat Rasulullah SAW menjelaskan bahwa umat muslim harus memikirkan kehidupan di dunia sekaligus akhirat. “Beribadahlah engkau seakan-akan engkau akan meninggal esok hari, dan bekerjalah engkau seakan-akan engkau akan hidup di dunia selamanya.”

Suatu ketika, tiga orang sahabat mendatangi kediaman istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Mereka ingin menanyakan ihwal ibadah beliau.

Mereka mengatakan, “Di mana posisi kita dibandingkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? Beliau telah diampuni atas dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang.”

Salah seorang di antara mereka mengatakan, “Aku bertekad akan melakukan shalat selamanya.”

Seorang yang lain menyahut, “Aku akan berpuasa selamanya tanpa berbuka.”

Seorang lainnya menyambung, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.”

Tidak lama kemudian, Rasulullah SAW datang, “Apakah kalian yang mengatakan demikian? Adapun aku, demi Allah, aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertaqwa. Akan tetapi aku shalat dan tidur, berpuasa dan berbuka. Aku menikahi wanita. Barang siapa membenci sunnahku, dia bukan termasuk di antara ummatku.”

Dalam beberapa kitab hadits shahih terdapat beberapa perbedaan riwayat, akan tetapi isinya tidak bertentangan, menekankan pentingnya beribadah kepada Allah SWT sekaligus bermuamalah dalam kehidupan di dunia, yang juga merupakan sunnah Rasulullah SAW.

Mencintai Saudaranya
majalah islam, majalah islam online, majalah alkisahMenurut Kiai Agus, selama ini kita fasih berbicara ukhuwwah namun kita sendiri tidak pernah merasakan apa itu ukhuwwah. Dalam konteks kota Jakarta, masih banyak terjadi perselisihan dan perpecahan di mana-mana. “Dengan semangat ukhuwwah, marilah kita tebarkan semangat bersaudara antar-sesama manusia untuk mewujudkan kehidupan yang semakin baik, indah, adil, dan maslahah,” kata Kiai Agus.

Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim mengatakan, “Tidaklah beriman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.”

Masih menurut Kiai Agus, untuk menjalin ukhuwwah, tidak terlepas dari peran akhlaq. Begitu pentingnya peran akhlaq, sehingga Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlaq umat manusia.

Berbicara mengenai akhlaq, memang tidak pernah ada habisnya. Seorang pujangga Islam pernah berkata, tegak pokoknya suatu bangsa ditetapkan oleh akhlaq. Apabila akhlaqnya baik, bangsa akan menjadi baik. Begitu pun sebaliknya, bangsa ini akan hancur apabila bangsanya tidak bermoral. Inilah tugas para ulama dan umara. Karenanya diperlukan umara yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan ala Rasulullah: siddiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (Cerdas).

Lihat, betapa suksesnya Rasulullah SAW memimpin Madinah dengan keempat sifat itu. Demikian juga dalam konteks kota Jakarya, diperlukan pemimpin yang memiliki keempat sifat kepemimpinan Rasululah SAW itu, agar Jakarta semakin maju. Kota yang pada 11 Juli mendatang ini melaksanakan hajat besar pemilihan pemimpin daerah, semoga bisa melahirkan pemimpin yang memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Jakarta begitu heterogen, banyak etnis yang tinggal di kota yang selalu menjadi primadona ini. Maka perlu adanya keteladanan, baik dari para ulama maupun umara, agar akhlaq masyarakat Jakarta, khususnya, tidak bergeser semakin jauh dari yang dicontohkan Rasulullah SAW. Kiai Agus juga  berharap, di hari jadinya bulan Juni ini Jakarta bisa lebih maju lagi.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah peran keluarga. Kiai Agus menyitir kata-kata pujangga Arab, al-ummu madrasatul uula, ibu adalah pendidik pertama. Dalam keterangan lain, al-baytu madrasatul uula, rumah adalah lembaga pendidikan pertama. Menurut Kiai Agus, keduanya benar. Ibu dan rumah digambarkan sebagai pendidik dan lembaga pendidikan pertama bagi anak-anak, sebelum seorang anak mendapatkan pendidikan formal di sekolah. Kepada mereka harus ditanamkan nilai-nilai agama yang diajarkan oleh keluarga, baik  ibu maupun ayah. Dengan demikian, anak-anak akan tumbuh dan besar dengan memiliki akhlaq seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sehingga mereka bisa berkontribusi dalam membangun bangsa dan agama. Di satu sisi menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT, di sisi lain ia memainkan perannya sebagai generasi bangsa.

Berdakwah sejak Kecil

Kiai Agus lahir di Jakarta pada tanggal 6 Juni 1969 dari pasangan H. Dadang Iskandar Abdul Wahab dan Hj. Aan Hayati binti Tata. Anak ketiga dari enam bersaudara ini sejak kecil telah belajar agama kepada guru ngajinya di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Sekolah formalnya dihabiskan di Ath-Thairiyyah. Kemudian berlanjut ke Universitas Asy-Syafi’iyyah, Jati Waringin, Jurusan Dakwah, Fakultas Ushluddin. Ia juga mengambil kuliah ekonomi di Institut Bisnis Manajemen, Jakarta.

Aktivitasnya di dunia dakwah telah ditekuninya sejak usia tujuh tahun. Kala itu ia kerap mengajar mengaji dan ceramah kepada teman-temannya. Kemudian makin serius ketika ia duduk di bangku SMP dengan mengisi acara di Radio At-Thairiyah. Memasuki bangku SMA, ia semakin dilirik dan mendapatkan kepercayaan umat, termasuk stasiun televisi. TVRI adalah stasiun TV yang pertama kali mengorbitkannya. Dari situ semakin banyak tawaran datang kepadanya, seperti dari TPI, yang kini berubah nama menjadi MNCTV, SCTV, RCTI, Indosiar, Lativi, saat ini TV One, dan terahir Metro TV saat bulan Ramadhan tahun 2011 lalu.

Hingga kini aktivitas dakwah kiai yang akrab dipanggil “KH (kaha)” ini semakin padat. Tidak hanya di dalam negeri, namun juga di mancanegara, seperti Malaysia, Singapura. Meskipun demikian ia tidak pernah mengabaikan undangan di pelosok-pelosok desa. Ia juga tidak mau mematok harga untuk dakwahnya. Ia merasa prihatin bila harus memasang tarif kepada umat yang membutuhkan ilmu. “Ilmu saya harus diamalkan. Kalau perlu saya yang aktif, agar apa yang telah saya peroleh ini mendapat berkah Allah SWT,” kata Kiai Agus

Selain berdakwah kepada masyarakat luas, kiai yang juga menjadi ketua Pondok Dzikir Safira Farhana ini pun mendidik anak-anak yatim di rumahnya. Ia memiliki pesantren yatim bernama “Pondok Pesantren Yatim Maulida Fitria”. Nama ini diambil dari nama anak sulungnya yang kini tengah duduk di bangku kuliah, Maulida Fitria. Setelah menikahi Dra. Hj. Adis Mahjurah pada tahun 1992, ia dikaruniai empat orang anak: Maulida Fitria, Diana Safira Farhana, M. Dandi Habibi, dan Nalita Wilda Mumtaz.

Keluarga begitu mendukung aktivitasnya, terutama sang istri, yang kerap mendampinginya berdakwah tidak hanya ke mancanegara namun juga hingga ke pelosok desa. Hj. Adis, istrinya, juga mengatur jadwalnya agar tidak bentrok dengan jadwal keluarga. Bagaimana pun sibuknya berdakwah, Kiai Agus juga harus menyempatkan diri mendidik anak-anaknya dengan pendidikan agama yang terbaik.

SEL


 

Add comment


Security code
Refresh