|
Tak ada yang diharapkannya dari semua itu selain untuk menggapai keridhaan Allah dan mengabdi kepada agama, umat, dan bangsa.
Biasanya seorang yang aktif sebagai muballigh yang berdakwah di berbagai tempat tidak mudah untuk mengurusi lembaga pendidikan secara serius. Apalagi membangun dan mengembangkan sebuah pondok pesantren, yang membutuhkan perhatian dan pemikiran yang sungguh-sungguh. Terlebih-lebih bila ia juga seorang aktivis organisasi. Tetapi ternyata tiga kegiatan itu dapat dilakukan secara bersama-sama oleh K.H. Musyfiq Amrullah, Lc., M.Si.
Ia pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren At-Tawazun, Subang. Pesantren ini sejak awalnya dikelola dan dikembangkan secara serius, sehingga, meskipun baru berusia sembilan tahun, telah menunjukkan perkembangan, kemajuan, dan kualitas yang nyata. Ia pun menjabat ketua PCNU Kabupaten Subang. Jabatan ketua yang disandangnya tak sekadar nama, melainkan ditunjukkan dengan berbagai program dan kerja nyata, sehingga PCNU Subang terus menunjukkan kemajuan yang berarti.
Di samping itu, kegiatan yang telah dijalaninya sejak lama, sejak puluhan tahun yang lalu, sebagai muballigh, juga tetap dapat berjalan dengan baik.
Termasuk Lima Besar Sosok yang ramah dan mudah akrab ini lahir di Serang, Banten, tepatnya di daerah Pontang. Ia anak kedua dari 13 bersaudara, putra pasangan K.H. Syamsuddin Abd Rohman dan Hj. Robiatul Adawiyah. Mereka berdua berasal dari Pontang dan sama-sama lulusan Pesantren Al-Khairiyah, Citangkil, Banten.
Ketika kecil, Kiai Musyfiq, yang lahir pada tanggal 3 September 1963, dibawa oleh orangtuanya ke Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di Tanjung Priok kakeknya punya lembaga pendidikan bernama Al-Khairiyah. Perguruan ini dapat dikatakan yang terbesar di sana, semua jenjang pendidikan ada di dalamnya kecuali perguruan tinggi. Maka Musyfiq kecil pun mengawali pendidikan formalnya di perguruan sang kakek.
Sejak kecil ia telah dibekali ajaran-ajaran agama oleh orangtuanya. Musyfiq kecil dididik dengan keras oleh mereka. Disiram dengan air dan dipukul dengan rotan apabila melanggar aturan orangtua, misalnya tak bangun waktu subuh, adalah pengalaman yang biasa ia alami. Setelah maghrib, ia tidak boleh keluar rumah, apalagi menonton bioskop. Bahkan menonton televisi di rumah tetangga, yang menjadi kesenangan teman-teman sebayanya pun, tak dapat ia nikmati. Ia diharuskan diam di rumah, mengaji Al-Qur’an dan mempelajari kitab-kitab dasar, semacam Matan At-Taqrib, Al-Ajurumiyah, `Awamil.
Setelah lulus ibtidaiyah tahun 1975, Musyfiq melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Turus, Pandeglang. Sekolah tingkat tsanawiyah dirampungkannya di sini.
Setelah itu ia melangkahkan kaki kembali ke Jakarta, melanjutkan pelajarannya di Pesantren Daarul Rahman, yang dipimpin K.H. Syukron Makmun.
Saat belajar di Daarul Rahman, awalnya ada sedikit kendala. Meskipun sebelumnya belajar di pesantren, apa yang dialaminya di Daarul Rahman berbeda dengan di pesantren sebelumnya. Di sini para santri harus berbahasa Arab atau Inggris. Setelah satu semester, ia baru bisa mengikuti dengan baik, bahkan dapat terus berpacu dengan santri-santri yang lain, sehingga akhirnya termasuk lima besar di antara ratusan santri yang ada.
Dipinjami Sorban Sang Guru
Banyak kenangan selama belajar di Daarul Rahman, terutama mengenai guru utamanya, K.H. Syukron Makmun. Yang paling berkesan baginya, beliau dalam mengajar tidak hanya tekstual, melainkan mengaitkannya dengan berbagai realitas dalam kehidupan. Kiai Syukron pun selalu konsisten mengajar dan menerangkan dalam bahasa Arab, kecuali jika para santri tampak belum memahami apa yang dijelaskan, maka ia jelaskan dalam bahasa Indonesia seperlunya.
Keistiqamahan dan kesungguhannya dalam mengajar juga tergolong luar biasa. Sebagai penceramah dan tokoh ulama yang sangat sibuk dengan berbagai kegiatan, waktunya dalam melayani umat sangat padat, baik siang maupun malam. Meskipun demikian, setiap subuh beliau selalu hadir mengajar di pondok. Walaupun setiap harinya sering pulang ke rumah di tengah malam, bahkan terkadang sampai jam dua atau lebih, saat waktu subuh tiba beliau telah siap mengajar. Meski tanda-tanda kelelahan tampak pada diri beliau, seolah tak terasa olehnya.
Tak sedikit pula pengalaman berkesan lain yang dialaminya di Daarul Rahman. Saat masih menjadi santri, ia pernah diminta oleh sang kiai untuk menggantikan beliau berceramah di daerah Pejaten, Jakarta Selatan. Masih teringat olehnya, beliau meminjamkan sorbannya, mungkin agar Musyfiq lebih percaya diri. Setelah selesai ceramah, sorban itu pun ia kembalikan lagi kepada sang guru.
Pernah pula ia dikirim ke Yogya untuk berceramah menggantikan sang guru yang sedang sakit. Ketika itu ia telah mengabdi sebagai guru. Pengalaman ini sangat berkesan, karena itulah pertama kali ia naik pesawat terbang. Dan yang lebih mengesankan, ia berceramah di hadapan jama’ah yang luar biasa banyaknya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Daarul Rahman, ia diminta mengabdi selama dua tahun, satu tahun di Daarul Rahman dan satu tahun lagi di Kuala Enok, Kepulauan Riau.
Meskipun telah mengajar, semangat belajarnya tak pernah sirna, bahkan terus menyala. Maka sekembalinya dari tanah rantau, ia mencoba mendaftar ke IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah dan diterima di Fakultas Syariah. Tahun 1985 ikut tes masuk ke salah satu Universitas di Madinah. Alhamdulillah diterima di Fakultas Dakwah, dan tanpa banyak kesulitan berhasil merampungkannya tahun 1989.
Kesempatan belajar dan tinggal di kota Nabi tak disia-siakan olehnya. Hampir setiap hari ia ke Masjid Nabawi, khususnya maghrib sampai isya. Selain untuk shalat berjama’ah, ia pun mengikuti halaqah-halaqah para syaikh di sana. Bahkan, ia aktif mengikuti pengajian-pengajian di luar Masjid Nabawi.
Jadi, selain menimba ilmu di kampus, ia pun sempat belajar kepada para syaikh, di antaranya dengan Habib Salim Asy-Syathiri, yang waktu itu masih berada di Madinah. Jika kebetulan sedang berada di Makkah, Kiai Musyfiq pun selalu memanfaatkan waktu yang ada untuk mengaji kepada tokoh-tokoh ulama di sana, di antaranya kepada Syaikh Yasin bin Isa Al-Fadani dan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki.
Menyiasati Keadaan Saat di kampus pun banyak pengalaman yang didapat. Suatu ketika ia pernah berdebat dengan salah seorang dosennya yang berpendapat bahwa di dalam Al-Qur’an tak ada lafazh majazi (lafazh yang bersifat kiasan). Untuk menolak pandangan sang dosen, ia kemukakan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan lafazh-lafazh yang demikian. Tapi pandangannya tetap tak diterima sampai jam pelajaran berakhir, bahkan diskusi berlanjut terus di luar kelas. Ternyata ketika datang saat ujian, apa yang dipermasalahkan itu menjadi salah satu soal yang ditanyakan. Karena menyadari bahwa jawabannya akan mempengaruhi lulus-tidaknya ia dalam mata kuliah itu, terpaksa ia menjawab sesuai dengan pandangan sang dosen. Selama di Madinah, bersama dengan teman-teman mahasiswa yang sama-sama berasal dari NU, Kiai Musyfiq membuat halaqah-halaqah membahas berbagai persoalan yang sedang dihadapi atau sedang menjadi pembicaraan aktual. Aktivitas organisasinya di sana juga sempat membawanya menjadi ketua KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) dan ketua PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia).
Nahdliyin Murni Tak lama setelah kembali dari Madinah, tepatnya tahun 1990, Kiai Musyfiq kembali ke almamaternya, Daarul Rahman, dan mengabdi lagi hingga masa reformasi tahun 1998. Namun karena telah memiliki majelis-majelis ta’lim, ia tak dapat lagi menetap di sana. Maka ia pun harus pulang pergi ke Tanjung Priok.
Begitulah, dari waktu ke waktu kegiatannya semakin meluas dan kepercayaan masyarakat kepada dirinya semakin bertambah. Selama kurang lebih empat tahun ia mengisi acara dakwah di Radio Agustina.
Kegiatan organisasi menjadi salah satu yang digelutinya sejak muda. Berbagai lembaga di bawah NU ia masuki, sejak dari IPNU, PMII, KMNU, dan kemudian sekembalinya dari Madinah aktif di LDNU DKI Jakarta, lalu di kepengurusan NU sendiri.
Ia memang seorang Nahdliyin murni. Meskipun demikian, ia tak membatasi kegiatannya hanya di lingkungan NU. Ia pun tercatat pernah menjadi sekretaris MUI Jakarta Utara saat ketuanya K.H. Zarqoni.
Saat masih menjadi mahasiswa IAIN, ia juga rajin mengaji kepada para kiai meskipun telah sibuk dengan berbagai aktivitas. Di antaranya aktif menghadiri majelis K.H.M. Syafi`i Hadzami di kediaman beliau, di Gandaria, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Juga mendatangi pengajian K.H. Abdullah di Tanjung Priok, tak jauh dari kediamannya.
Di masa-masa itu pula ia diminta oleh salah seorang gurunya di Tanjung Priok yang memiliki madrasah untuk mengelola perguruannya itu. Di tengah-tengah menggeluti kegiatan-kegiatan tersebut, suatu ketika, saat diundang berdakwah di daerah Subang, ada yang menawarkan kepadanya tanah wakaf. Itulah yang kemudian mengubah perjalanan hidupnya, dan itulah pula yang menjadi awal mula ia mendirikan dan mengasuh Pesantren At-Tawazun.
Sesungguhnya, Kiai Musyfiq tak memiliki kaitan apa-apa dengan daerah Subang. Keluarganya maupun keluarga istrinya bukan berasal dari sana, juga tak pernah menetap di kota itu. Tapi begitulah, nasib dan perjalanan orang tak ada yang tahu, bahkan yang menjalaninya pun tak tahu. Hanya Allah yang tahu dan yang menentukan segalanya.
Pesantren At-Tawazun berdiri tahun 2003 di bulan Sya’ban. Pertama kali Kiai Musyfiq mendapatkan tanah wakaf seluas 5.000 meter dipotong hibah 300 meter untuk rumah tinggal baginya. Dua tahun kemudian ada lagi yang menawarkan tanah wakaf seluas 2.000 meter sekaligus meminta agar sisa tanahnya yang sekitar 2.500 meter dapat dibeli.
Begitulah, dari tahun ke tahun pesantren yang diasuhnya semakin berkembang dan semakin mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Kini, Pesantren At-Tawazun telah menjadi salah satu pesantren yang dikenal di Subang, bahkan meluas hingga daerah-daerah lain (lebih jauh tentang Pesantren At-Tawazun, baca rubrik Ma`had edisi ini). Dari pernikahannya dengan Hj. Siti Nurkamilah Nawawi, ia dikarunia empat orang permata hati, dua laki-laki dan dua perempuan: Syawqi Liqoa Robby, Ahmad Rajiv Muzaki, Cabila Salsabila, dan Hilya Fadhya. Anak pertama baru saja berangkat ke Hadhramaut beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Juni 2012, untuk menimba ilmu di Daarul Musthafa, Tarim.
Anak kedua telah lebih dulu meninggalkan tanah air dan sekarang sedang mengikuti kuliah di Universitas Al-Ahqaf, Hadhramaut. Ia berangkat bersama tiga orang alumnus At-Tawazun lainnya. Adapun anak ketiga masih menjadi santri di At-Tawazun dan baru saja naik ke kelas tiga. Meskipun anaknya sendiri, ia tetap diwajibkan untuk tinggal di pondok, tidak tidur di rumah. Hanya saat-saat tertentu ia pulang ke rumah. Sedangkan si bungsu masih bersekolah di SD.
Di samping terus mengembangkan dan membenahi Pesantren At-Tawazun dengan berbagai lembaga pendidikan yang ada di dalamnya, ia pun memiliki rencana-rencana lain. Salah satu yang diidam-idamkannya dan sedang dipersiapkannya adalah membuka pesantren tahfizh khusus untuk anak-anak. Sungguh cita-cita yang mulia, yang memang menjadi kebutuhan umat. Tak ada yang diharapkannya dari semua itu selain untuk menggapai keridhaan Allah dan mengabdi kepada agama, umat, dan bangsa. Itulah harapan seorang muslim sejati. Semoga harapan dan cita-citanya segera dapat terwujud dan dimudahkan oleh Allah Ta`ala. Amin, ya Rabbal `alamin.
AY
|