Sunday, 26 October 2014
Home Tamu Kita K.H. Abdurrahman Nawi: Karya-karyanya Amat Termasyhur
K.H. Abdurrahman Nawi: Karya-karyanya Amat Termasyhur PDF Print E-mail
Wednesday, 27 July 2011 10:02

Ia banyak mencetak santri-santri yang berkualitas dan produktif menulis kitab yang dijadikan rujukan masyarakat.

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh kita yang satu ini. Bila bulan Ramadhan tiba, hampir sebagian besar warga Jakarta membaca dan menggunakan kitab pedoman yang ditulisnya. Mutiara Ramadhan adalah kitab yang tidak lagi asing bagi masyarakat Jakarta, yang dijadikan pedoman seputar pelaksanaan Ramadhan.

Penulis kitab yang termasyhur ini tak lain dalah K.H. Abdurrahman Nawi, yang biasa dipanggil “Abuya” oleh para jama’ah dan santri-santrinya.

Abuya adalah sosok yang selalu riang dan ramah saat ditemui siapa pun. Di sela-sela kesibukannya yang sangat padat, di tengah perjalanan sepulang dari kediaman Habib Husein Allatas Gang Buluh, ia meluangkan waktunya untuk alKisah. Bukan hanya itu, bahkan Abuya pun berkenan menunggu di pinggir jalan, di depan Kompleks Rindam Condet, menunggu alKisah, yang meluncur dari kantornya di Jln. Pramuka Raya. Itu menunjukkan kerendahan hati Abuya, yang patut dijadikan teladan.

“Lengkapnya” seorang Ulama
Abuya Abdurrahman Nawi lahir di Batavia tahun 1938. Ia adalah anak kesepuluh dari sebelas bersaudara dari pasangan H. Nawi bin Sueb dan Hj. Ainin binti H. Rudin.

Sejak masa kanak-kanak, Abuya sudah sangat gemar menuntut ilmu. Sehingga tidak mengherankan bila dikemudian hari Abuya dikenal sebagai salah satu ulama Betawi yang dikenal mendalam pada ilmu-ilmu yang ditekuninya.

Di antara guru-guru utamanya adalah Habib Ali bin Husein Al-Attas (Habib Ali Bungur), Habib Abdullah bin Salim Al-Attas, Habib Syech Al-Musawa, Guru Moshonnif Menteng Atas, Guru Muhammad Yunus Tebet, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad, Habib Husein Al-Habsyi, Habib Syekh Al-Musawwa, K.H. Siman, K.H. Ghozali, K.H. Mohmmad Natsir, K.H. Mohammad Zein bin H. Said, K.H. Ahmad Junaidi, Syaikh Abdullah Arfan, dan Prof. K.H. Ali Yafie.

Untuk ijazah dakwah, Abuya meminta secara khusus kepada ulama kharismatis K.H. Abdullah Syafi`i, pemimpin Perguruan Islam Asy-Syafi`iyyah, selain tentu kepada guru-guru utama  yang lainnya. Sedangkan untuk ijazah qira’at, Abuya mengambilnya dari beberapa guru, antara lain K.H. Tubagus Abdul Hannan Banten.

Setelah dirasa cukup mendapat didikan dan ijazah dari Habib Ali Bungur, secara khusus, pada tahun 1960-an, Abuya berangkat haji sekaligus belajar kepada beberapa ulama besar Melayu yang mengajar di Tanah Suci, seperti Syaikh Abdul Qadir Mandailing dan Syaikh Husein Al-Fatani. Mumpung berada di Tanah Suci, ia juga tabarrukan dan mengaji kepada Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki serta kepada Habib Zein Bin Smith.

Sepulang dari Tanah Suci, pada tahun 1962, Abuya Abdurrahman Nawi memulai kiprah dakwahnya. Aktivitas tersebut ia lakoni sambil mengajar di Mahad ‘Ali Asy-Syafi`iyyah, Jatiwaringin, Pondok Gede.
Berawal dari beberapa orang, jama’ah pengajiannya semakin bertambah banyak. Tidak hanya dari sekitar Tebet, tapi juga dari berbagai penjuru Ibu Kota lainnya. Pengajian yang diberi nama “As-Salafiah” itu berkembang pesat, hingga pada tahun 1976 harus membuka cabang di berbagai tempat.

Agar pendidikan agama yang diajarkan lebih efektif, tahun itu juga Abuya Abdurrahman Nawi bersama jama’ahnya membangun gedung madrasah di atas tanah seluas 600 meter persegi miliknya dan jariyah kedua orangtuanya. Pembangunan gedung madrasah selesai pada tahun 1979, diresmikan oleh K.H. Idham Chalid, ketua PBNU waktu itu. Saat peresmian, Kiai Idham Chalid mengusulkan penggantian nama As-Salafiah menjadi “Al-Awwabin”. Maka, sejak itulah nama Al-Awwabin melekat dengan sosok Abuya Abdurahman Nawi.

Sejak mempunyai madrasah dan membuka pendidikan formal, lembaga yang dipimpin langsung oleh Abuya berkembang semakin pesat, hingga pada tahun 1982 gedung madrasah Al-Awwabin tidak mampu lagi menampung jumlah siswa yang ingin belajar. Akhirnya Abuya bersama beberapa pengurus mencari lahan baru dan mendapatkannya di Jalan Raya Sawangan No. 21 Kampung Sengon, Pancoran Mas, Depok.

Di tempatnya yang baru, Al-Awwabin membangun gedung pesantren dan madrasah yang mampu menampung lebih dari 1.000 santri.

Tahun 1982, pembangunan gedung selesai dan diresmikan Menteri Agama, H. Munawir Syadzali. Seluruh kegiatan pesantren pun dipindahkan ke tempat baru tersebut. Sementara lokasi Al-Awwabin lama di Tebet Barat, Jakarta Selatan, saat ini dijadikan sekretariat majelis ta’lim Abuya Abdurrahman Nawi di Jakarta.

Depok menjadi tujuan pencarian lahan baru untuk Al-Awwabin, menurut Abuya, karena letaknya yang strategis. “Dari mana saja lokasi Al-Awwabin mudah dijangkau, baik dengan kereta, angkutan umum, maupun kendaraan pribadi.”

Bukan hanya itu, Abuya juga meneruskannya dengan mendirikan pesantren putri, biasa disebut “Pesantren Al-Awwabin II”, di Jln. H. Sulaiman No. 12, Perigi, Bedahan, Sawangan, Depok, yang luasnya sekitar empat hektare.

Kompleks pesantren yang dihuni ribuan santriwati dari berbagai penjuru tanah air itu memiliki fasilitas gedung asrama, gedung MTs dan gedung MA, laboratorium komputer, rumah guru, dan lapangan olahraga. Al-Awwabin II juga terasa sejuk, karena dikelilingi pepohonan besar dan kebun jeruk limau seluas 1.000 meter persegi milik pesantren, yang dipanen setiap tiga bulan.

Belum “lengkap” rasanya kiprah seorang ulama bila belum menghasilkan karya tulis. Menyadari hal itu, Abuya Abdurrahman Nawi, di sela-sela kesibukannya mengajar, juga menyempatkan diri menulis beberapa risalah panduan yang diperuntukkan bagi jama’ah pengajian dan santri-santrinya serta kaum muslimin pada umumnya.

Dari tangan Abuya telah lahir tak kurang dari sebelas kitab yang banyak dijadikan sebagai rujukan penting, khususnya bagi masyarakat Jakarta, selain tentunya menjadi pedoman wajib bagi para santri Al-Awwabin. Di antara karya-karyanya adalah kitab Mutiara Ramadhan, Tuntunan Manasik Haji, Sulamul `Ibad, Nahwu Melayu, Tujuh Kaifiat, dan Pedoman Ziarah Kubur.

Ketika ditemui alKisah, Abuya juga menunjukkan karangan terbarunya, yaitu kitab Pelajaran Ilmu Tajwid, yang ditulis dalam bahasa Arab Melayu. Kitab yang dicetak dengan kertas hard paper ini diberi pengantar oleh Prof. K.H. Alie Yafie dan K.H. Drs. Muhammad Hidayat. Kitab ini berisikan dua belas pelajaran penting dalam ilmu tajwid, dari pengenalan huruf Hijaiyah, hukum-hukum nun sukun, mim sukun, sampai dengan pelajaran tentang doa-doa yang sunnah dibaca pada setiap sujud tilawah, berdasarkan kandungan ayatnya masing-masing.

Di samping kharismatis, Abuya Abdurrahman juga diakui banyak memiliki keistimewaan, terutama dalam hal banyaknya mencetak santri-santri yang berkualitas dan mengarang kitab-kitab yang dijadikan rujukan masyarakat, karena pada umumnya kitab-kitab yang disusun oleh Abuya sangat praktis dan bahasanya gamblang dan sederhana.

Tiga Serangkai Ulama Betawi
Abuya juga dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan kalangan habaib. Salah satunya kedekatannya dengan Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf dan Habib Husein bin Ali Al-Attas Gang Buluh. Karena kedekatannya, mereka dijuluki “Tiga Serangkai Ulama Betawi”. Julukan ini, menurut Abuya, pada awalnya diberikan oleh Dr. Hamzah Haz saat masih menjabat wakil presiden RI.

Julukan itu bermula dari seringnya Abuya Abdurrahman Nawi hadir di majelis-majelis dakwah bersama Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf dan Habib Husein bin Ali bin Husein Al-Attas. Hamzah Haz, yang berkali-kali menjumpai ketiga ulama besar itu, pun menjuluki mereka dengan sebutan “Tiga Serangkai Ulama Betawi”.

Uniknya, setelah pemberian julukan itu, ketiganya makin sering bersama, baik dalam acara yang diadakan kalangan habaib, pemerintah, maupun masyarakat.

Abuya memang memiliki kedekatan khusus dengan Habib Ali dan Habib Husein, walaupun usia mereka berjarak hampir sepuluh tahun. Sebab kedua tokoh habib tersebut adalah putra-putra gurunya, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf Bukit Duri dan Habib Ali bin Husein Al-Attas alias Habib Ali Bungur.

Selain itu, menurut Abuya, kedekatannya dengan dua tokoh itu tidak lain karena mengamalkan ajaran para ulama, agar seorang murid tidak hanya menghormati dan memuliakan guru-gurunya yang memberikan ilmu, tetapi juga putra-putra mereka. Bahkan, meski kini Habib Husein Al-Attas sudah tiada, Abuya tidak berhenti untuk mendatagi kediaman Habib Husein di Gang Buluh, yang kini kiprah dakwah dan ta`limnya diteruskan oleh khalifah sekaligus menantunya, Habib Mahdi bin Abdurrahman bin Syech Al-Attas.

Tukang Nahwu
Para santri dan jama’ah yang istiqamah menghadiri ta`lim Abuya akan dengan mudah menyimpulkan apa yang disampaikan olehnya. Karena Abuya memiliki metode yang luar biasa dalam mengajar. Ciri utama Abuya dalam mengajar adalah jelas dan lugas, sehingga siapa pun yang mendengarkan dan mengikutinya akan dengan mudah menyerapnya.

Keistimewaan lain yang dimiliki Abuya adalah kemampuannya dalam menghafal syair-syair Arab, dan itu terbukti dalam berbagai ta`lim ataupun ceramah-ceramah yang disampaikan. Bahkan syair-syair yang mungkin tidak populer di kalangan asatidz, di luar dugaan Abuya mengungkapkannya dengan begitu fasihnya.

Selain itu, karena kegemaran dan minat Abuya Abdurrahman Nawi yang begitu besar terhadap ilmu nahwu, dalam banyak kesempatan, semasa hidupnya, K.H. Abdullah Syafi`i, pendiri Perguruan Asy-Syafi`iyah, menjulukinya “Tukang Nahwu”.

Abuya memang boleh berbangga hati karena kesungguhannya dalam mendidik para santri telah membuahkan hasil yang luar biasa. Kini ribuan santrinya telah tersebar ke seantero negeri, bahkan tak sedikit di antara mereka sudah mendirikan pesantren dan berbagai majelis ilmu di daerahnya masing-masing.

Semoga para kader Abuya dan kita semua dapat meneladani dan meniru keluasan ilmu serta kerendahan hatinya. Amin....


Muhammad Sobihullah

Last Updated on Wednesday, 27 July 2011 17:03
 

Add comment


Security code
Refresh