Friday, 29 August 2014
Home Zawiyah Zawiyah Pasca-Operasi Caesar
Pasca-Operasi Caesar PDF Print E-mail
Monday, 12 November 2012 12:04

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Ustadz Segaf yang kami hormati. Baru-baru ini saya baru saja melahirkan anak kedua kami melalui operasi caesar. Setelah operasi itu, saya tidak langsung mengeluarkan darah. Setelah setengah hari, barulah darah keluar, tapi keluarnya tidak terus-menerus, sering berhenti.

Pertanyaan saya, apakah wanita yang melahirkan dengan operasi caesar juga mengeluarkan darah nifas dan wajibkah mandi karenanya? Bagaimana membedakan darah-darah yang keluar dan tidak terus-menerus itu, sebagai darah nifas atau istihadhah? Selama darah belum keluar, apakah saya wajib shalat? Terakhir, saya masih memakai perban pada bekas operasi, bagaimana cara bersuci atau mandinya?

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Vivi Taufiqoh

Banjarmasin

 

www.majalah-alkisah.comWa ‘alaikumussalam wr. wb.

Selamat ya atas kelahiran anak ke­dua Anda, semoga menjadi anak yang shalih. Amin ya rabbal ‘alamin.

Ibu Vivi yang dirahmati Allah. Perta­nyaan Anda sangat baik dan banyak dialami para wanita. Ini menunjukkan hausnya Anda dalam ilmu agama dan ketaqwaan Anda kepada Allah SWT. Semoga banyak wanita meniru Anda, karena sekarang ini cukup jarang para ibu bertanya seputar ilmu agama yang berkaitan dengan kesehariannya. Ketika mereka mengalami hal yang tidak me­reka mengerti solusinya, mereka lebih bersikap masabodoh dan mengambil jalan pintas. Padahal, hal-hal tersebut berkaitan dengan perintah Allah, seperti shalat dan lainnya.

 

Darah Pasca-Operasi

Darah nifas adalah sekumpulan darah haidh yang tidak keluar selama mengandung dan akan keluar setelah sempurna melahirkan anak dalam kandungannya. Dari definisi darah nifas ini dapat kita pahami, asal-muasal keluarnya darah nifas sama seperti halnya darah haidh, yaitu dari pangkal rahim.

Sewaktu rahimnya terisi janin, berhentilah aliran darah haidh yang biasa dikeluarkannya setiap bulan, karena tertutup rahimnya yang sudah  terisi; walaupun menurut pendapat yang mu’tamad wanita yang sedang hamil juga dapat mengeluarkan darah haidh (jika memenuhi syarat: tidak kurang dari 1 hari 1 malam dan tidak lebih dari 15 hari 15 malam), akan tetapi umumnya para wanita hamil tidak mengeluar­kan­nya. Sehingga, setelah wanita itu selesai melahirkan dengan sempurna, barulah darah yang tadinya tidak keluar selama mengandung akan keluar lagi setelah rahimnya sudah kosong. Tidak ada yang menyumbat atau menahan keluarnya darah yang biasa dikeluarkannya.www.majalah-alkisah.com

Demikianlah kenyataannya menga­pa darah haidh tidak keluar selama mengandung. Dari kenyataan ini dapat kita pahami bahwa tidak ada bedanya apakah kelahiran itu terlaksana secara alamiah atau dengan operasi, karena rahimnya sudah kosong (anak dalam kandungannya sudah keluar), sehingga tidak ada yang mencegah keluarnya darah yang biasa dikeluarkan, baik dengan proses kelahiran biasa maupun dengan operasi caesar.

Kesimpulannya, darah yang dike­luar­kan pasca-operasi caesar juga di­hukumi sebagai darah nifas.

Hukum Bersuci

Di antara enam sebab yang mewajib­kan mandi adalah karena sebab melahir­kan, baik dengan kelahiran biasa mau­pun dengan cara operasi. Sehingga, jika seperti yang Anda alami, setelah me­lahir­kan tidak langsung mengeluarkan darah, bila waktu itu ketepatan waktunya shalat dan cukup waktu untuk mengerja­kan bersuci dan shalat pada waktu itu, Anda wajib mandi dan melaksanakan shalat pada waktu itu.

Akan tetapi, pada umumnya wanita setelah melahirkan langsung mengeluar­kan darah nifas sehingga mandi wajib­nya dijadikan satu nanti setelah suci dari darah nifasnya. Karena itu kelak mandi wajibnya karena dua sebab, karena suci dari nifas dan karena sebab melahirkan walaupun dalam niatnya cukup dengan satu niat atau dengan niat mandi untuk mengangkat hadats besar.

 

Membedakan Darah Nifas

Tidak sulit untuk membedakan darah nifas dari darah yang lainnya. Yang penting, kita harus tahu bahwa darah yang keluar langsung pasca-kelahiran  adalah darah nifas.

Kemudian, jika terus-menerus keluar hingga 60 hari, semuanya dihukumi darah nifas.

Jika tidak terus-menerus (terkadang keluar dan terkadang berhenti), seperti yang terjadi pada Anda, lihat berhentinya kapan dan berapa lama. Jika berhenti­nya pada masa nifas (dalam masa se­lama 60 hari), kemudian lihat berapa lama berhentinya. Jika 15 hari atau lebih berhentinya, darah yang keluar setelah­nya dihukumi darah haidh.

Misalnya, baru 20 hari keluar darah nifas, tiba-tiba berhenti, pada hari ke-36 keluar lagi, maka darah pada hari ke-36 tidak lagi dinamakan darah nifas, tetapi darah haidh, jika memenuhi syarat. Atau, baru keluar darah nifas 30 hari, lalu berhenti, kemudian pada hari ke-46 keluar lagi, maka darah yang keluar pada hari ke-46 dinamakan darah haidh, jika memenuhi syarat.

Adapun jika berhentinya kurang dari 15 hari, darah yang keluar selanjutnya masih dihukumi darah nifas.

Misalnya, darah nifas baru keluar 20 hari, lalu berhenti, kemudian pada hari ke-30 (atau kurang) keluar lagi, maka darah yang keluar selanjutnya masih dihukumi darah nifas. Jika berhentinya pada akhir masa nifas, misalnya pada hari ke-60 berhenti, lalu pada hari ke-61 keluar lagi, maka darah yang keluar pada hari ke-61 dihukumi darah haidh, jika memenuhi syarat, karena masa nifas­nya sudah mencapai batas maksi­mal, yaitu 60 hari, jadi tidak diperlukan jeda selama 15 hari untuk menghukumi darah selanjutnya sebagai darah haidh. Pokoknya, sewaktu berhenti, dalam artian pada kemaluannya tempat masuk­nya zakar bersih putih tanpa noda, ber­arti telah suci dari nifasnya. Sehingga, jika setelah itu keluar lagi, darah yang keluar setelah itu dapat dihukumi se­bagai darah haidh.

 

Kondisi Memakai Perban

Cara melaksanakan thaharah (ber­suci) bagi mereka yang ada perban pada badannya: Jika melepaskan perban ti­dak membahayakannya, harus dilepas, agar tempat tersebut dikenai air semua ketika mandi suci.

Jika tidak memungkinkan melepas perban, karena akan memperparah luka­nya, memperlambat penyembuhannya, atau justru akan membahayakannya, tidak usah dicabut, namun wajib diusap dengan air di atas perban itu sebagai ganti dari permukaan kulit yang tidak luka, tetapi ditutupi perban, dan kemudi­an bertayammum, sebagai ganti dari mem­basuh permukaaan kulit yang ter­luka yang ditutupi perban tersebut. Ke­mudian, bagian tubuh lainnya yang tidak tertutup perban dibasahi dengan air seperti biasanya orang yang mandi suci.

Mengenai tayamumnya, boleh di­laku­kan setelah selesai mandi atau se­belum mandi, karena dalam pekerjaan mandi tidak wajib dilaksanakan dengan tertib. Dan tayamum yang dimaksud di sini ada­lah tayamum seperti biasanya, yaitu dengan berniat ketika mengambil debu lalu mengusapkannya ke wajah dan meng­ambil debu lagi untuk mengu­sap­kannya ke kedua tangan hingga sikunya.

Fiqhun-Nissa’

Diasuh oleh: Ustadz Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I.

Pengasuh Pondok Puteri Pesantren Darul Lughah wad Da’wah, Bangil, Jawa Timur

IY*AP

Last Updated on Monday, 12 November 2012 13:06
 

Add comment


Security code
Refresh