Bagaimana Umat Terpecah Menjadi 73 Golongan (Bagian 1)

Kemudian kaum muslimin berselisih pada persoalan imamah (kepemimpinan) sepeninggal Rasulullah SAW. Perselisihan mengenai imamah inilah yang merupakan perselisihan paling besar yang terjadi di tengah umat yang kemudian melahirkan perselisihan dan perpecahan besar lainnya di tengah-tengah umat.

Sesungguhnya kaum muslimin pada saat Rasulullah SAW wafat berada di atas satu manhaj dalam masalah us­hul­uddin dan furu‘nya, selain mereka yang menampakkan kesamaan dan me­nyembunyikan kemunafikan.

Perselisihan yang pertama kali terjadi di tengah kaum muslimin berkaitan de­ngan kematian Nabi SAW. Sebagian ber­anggapan bahwa Nabi SAW tidak wafat, akan tetapi Allah hanya mengangkat be­liau ke sisi-Nya sebagaimana diangkat­nya Nabi Isa Ibnu Maryam AS. Ada pula yang beranggapan bahwa Nabi SAW ha­nya pergi untuk sementara waktu seperti halnya Nabi Musa AS pergi mening­gal­kan kaumnya selama empat puluh hari.

Namun perselisihan ini hilang dan se­mua mengakui kematian Nabi SAW ke­tika Abu Bakar Ash-Shiddiq RA mem­ba­cakan kepada mereka firman Allah SWT ke­pada Nabi-Nya, “Sesungguhnya eng­kau akan mati dan mereka akan mati (pula).” — QS Az-Zumar: 30. Dan dalam riwayat lain Abu Bakar RA membacakan firman Allah SWT, “Dan Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh, kalian berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa ber­balik, ia tidak dapat mendatangkan ma­dharat kepada Allah sedikit pun juga, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur — QS Ali Imran: 144.”

Ketika Rasulullah SAW wafat, kese­dihan dan duka yang teramat mendalam me­nyelimuti seluruh hati kaum muslimin. Banyak di antara mereka yang tidak me­nerima berita wafatnya Nabi SAW.

Orang yang paling keras menentang berita wafatnya Rasulullah SAW adalah Umar bin Khaththab RA. Umar bin Khath­thab, yang sepanjang hidupnya selalu berada di samping Rasulullah SAW, tidak menerima bila dikatakan bahwa Nabi SAW telah wafat. Saat berita itu didengar­nya, Umar diam mematung dan tak ber­kata sepatah kata pun. Lalu, seolah tak sadar, ia berdiri dan berjalan menuju ke­rumunan kaum muslimin saat itu. Ia ke­mudian berkata dengan suara lantang di hadapan mereka, “Sesungguhnya bebe­rapa orang munafik telah menganggap bahwa Muhammad telah wafat, mening­galkan dunia. Tidak, sesungguhnya be­liau tidak meninggal, tetapi pergi ke ha­dapan Tuhannya, seperti yang dilakukan Musa, yang pergi selama empat puluh hari dari kaumnya, lalu kembali lagi ke­pada mereka. Demi Allah, sesungguhnya Rasulullah SAW akan kembali. Barang siapa mengatakan beliau sudah wafat, akan kupenggal kedua kaki dan tangan­nya.”

Abu Bakar pun datang dan menyuruh Umar duduk, tetapi ia tidak mau duduk. Lalu Abu Bakar mengucapkan syahadat dengan suara yang lantang sehingga orang-orang berpaling kepadanya dan mengabaikan Umar.

Sayyidina Abu Bakar kemudian me­lanjutkan khutbahnya, “Amma ba`du, ba­rang siapa menyembah Muhammad, se­sungguhnya Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, sesung­guhnya Allah Maha hidup, tidak akan mati. Allah SWT berfirman, ‘Dan Muham­mad tidak lain hanyalah seorang rasul. Te­lah berlalu sebelumnya beberapa ra­sul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh, ka­lian berbalik ke belakang (murtad)? Ba­rang siapa berbalik, ia tidak dapat men­datangkan madharat kepada Allah sedikit pun juga, dan Allah akan memberi balas­an kepada orang-orang yang bersyukur.’ — QS Ali Imran: 144.”

Dengan adanya khuthbah Abu Bakar Ash-Shiddiq itu kaum muslimin pun kem­bali kepada satu pendapat yang menga­kui bahwa Rasulullah SAW telah wafat.

Namun setelah itu kaum muslimin kem­bali berselisih pendapat mengenai penguburan Nabi SAW. Para penduduk Makkah menghendaki agar jasad suci Nabi SAW dikembalikan ke Makkah karena Makkah adalah tempat kelahiran beliau, tempat beliau diangkat menjadi nabi, kiblat beliau SAW, asal-muasal sisi­lah beliau, dan di sana pula terdapat ma­kam kakek beliau, Nabi Ismail AS. Tapi kaum muslimin Madinah menghendaki agar beliau SAW dimakamkan di Madi­nah karena Madinah adalah negeri hijrah beliau dan negeri para pengikut setia be­liau. Sebagian yang lain menghendaki agar Nabi SAW dipindahkan ke Al-Quds, Palestina, dan agar beliau nantinya di­makamkan di Baitul Maqdis di samping ma­kam kakek beliau, Nabi Ibrahim Al-Khalil AS. Khilaf ini pun hilang setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA kembali menyam­paikan sabda Nabi SAW kepada mereka, be­liau bersabda, “Sesungguhnya para nabi dikebumikan di mana mereka di­ambil nyawanya.” (HR At-Tirmidzi, Ma­lik, dan Ibnu Majah dengan lafazh, “Ti­daklah seorang nabi dicabut nyawanya, kecuali dikebumikan di tempat ia dicabut nyawanya itu.”). Kemudian kaum muslim­in pun memakamkan Nabi SAW di kamar rumah kediaman beliau SAW di Madinah.

Lalu kaum muslimin berselisih pada per­soalan imamah (kepemimpinan) se­peninggal Rasulullah SAW. Perselisihan mengenai imamah inilah yang merupa­kan perselisihan paling besar yang terjadi di tengah umat yang kemudian melahir­kan perselisihan dan perpecahan besar lainnya di tengah-tengah umat.

Rasulullah SAW wafat pada hari Senin, 12 Rabi‘ul Awwal 11 H/19 Juni 632 M. Ke­pergiannya meninggalkan kepedih­an yang mendalam di setiap hati umat Islam. Mereka semua terguncang hebat. Kese­dihan dan duka yang mendalam melahir­kan kepanikan. Semua orang mencari-cari, siapakah kini yang paling layak me­mimpin mereka? Siapakah ma­nusia ter­baik yang paling layak menjadi panutan dalam segala urusan mereka, manusia utama yang mesti mereka taati perintah­nya?

Tak ada seorang pun yang tahu. Tak ada seorang pun yang merasa yakin, ka­rena Nabi SAW pergi tanpa meninggal­kan pesan kepemimpinan. Beliau me­ning­galkan umat tanpa mengabarkan wa­siat tentang siapa yang layak menjadi sang pengganti.

Pendapat umat terbagi ke dalam dua arus utama, pandangan kaum Muhajirin dan Anshar. Masing-masing berpan­dang­an, kelompok merekalah yang paling la­yak memimpin seluruh umat. Tak ada yang memungkiri, kedua golongan itu sama-sama memiliki kemuliaan dan keistimewaan. Mereka semua adalah sahabat-sahabat terbaik Rasulullah SAW.

Kalangan Muhajirin adalah orang-orang yang paling awal mengikuti Rasul­ullah SAW.  Mereka beriman ketika ma­nusia lain tetap terlelap dalam kesesatan. Mereka tunduk dan patuh kepada Rasul­ullah SAW saat semua orang tenggelam dalam pengingkaran. Mereka berjuang men­dampingi Rasulullah SAW menegak­kan kebenaran. Mereka berhijrah me­ning­galkan harta dan sanak keluarga demi tegaknya keagungan Islam.

Tapi juga tak seorang pun layak me­remehkan peran kaum Anshar. Mereka­lah penolong sejati. Mereka korbankan har­ta, jiwa, dan raga mereka demi kelang­sungan dakwah Islam. Mereka tak pan­tang berbagi dengan saudara yang baru mereka kenal. Mereka berikan segala yang mereka miliki, berupa harta, kebun, rumah, bahkan istri, untuk saudara yang baru mereka temui, tanpa rasa segan dan penyesalan. Sungguh berkat ketulusan dan perjuagan mereka, dakwah Islam menyebar ke seantero jazirah.

Karena itulah, Muhajirin maupun Anshar merasa bahwa kelompok mere­ka­lah yang paling layak melanjutkan ke­pemimipinan.

Beberapa saat setelah Rasulullah wa­fat kaum Anshar bekumpul di Aula (Sa­qifah) Bani Saidah. Mereka menghen­daki, kepemimpinan umat dibagi dua, un­tuk Muhajirin dan Anshar. Langkah per­tama mereka memilih Sa’ad bin Ubadah, pemimpin suku Khazraj, sebagai pemim­pin Anshar. Kemudian mereka menga­bar­kan kepada kaum Muhajirin agar me­nunjuk salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin Muhajirin.

Ketika kabar mengenai berkum­pul­nya kaum Anshar itu didengar kaum Mu­hajirin, mereka berkata, “Ayo, kita temui saudara-saudara kita kaum Anshar.”p>

Beberapa orang dari kaum Muhajirin bergegas pergi ke tempat perkumpulan kaum Anshar.

Di tengah perjalanan mereka bertemu dua orang shalih dari golongan Anshar. Keduanya mengetahui apa yang baru saja diputuskan oleh kaum Anshar se­hingga mereka bertannya, “Wahai kaum Muhajirin, ke mana kalian hendak pergi?”

Rombongan Muhajirin menjawab, “Kami hendak menemui saudara-sau­dara kami, kaum Anshar.”

“Tidak, sebaiknya kalian tidak pergi ke sana. Lebih baik kalian menyelesaikan urusan kalian sendiri.”

Umar RA berkata, “Demi Allah, aku akan menemui mereka.”

Rombongan Muhajirin meneruskan langkah mereka hingga akhirnya tiba di Saqifah Bani Saidah.

Di tengah-tengah kaum Anshar ber­diri seorang laki-laki.

Umar RA bertannya, “Siapakah laki-laki itu?”

Mereka menjawab, “Sa’ad bin Uba­dah.”

“Sedang apa dia?”

“Kita lihat saja apa yang akan terjadi.”

Para Muhajirin itu duduk untuk me­nyaksikan.

(Bersambung)

About Hollyati Nita

Check Also

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Karya-karyanya : Pohon yang Bercabang Banyak

Tersebar ke berbagai Penjuru Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan sa­ngat dikenal kealiman dan kewara‘an­nya, sehingga …