Dahsyatnya Doa Qunut : Keberkahan tiada Henti Mengalir (Bagian 2)

Qunut bukan sekadar sebuah doa. Qunut adalah rangkaian doa yang mengandung kedahsyatan. Ia adalah doa yang dipanjatkan saat seseorang rindu akan kasih sayang Allah. Doa tersebut dilantunkan saat seorang hamba mengharap pertolongan Allah. Doa Qunut adalah doa yang disyari’atkan Allah kepada hamba-Nya.

Qunut Nazilah

Qunut Nazilah adalah Qunut yang dilakukan saat kaum muslimin ditimpa kesulitan, musibah, dan semacamnya. Qunut Nazilah dianjurkan dalam semua shalat fardhu. Hadist-hadits berikut menjadi dalilnya:

“Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW Qunut selama sebulan mengutuk orang-orang Ri’l, Dzakwan, dan Ushay­yah, yang telah membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR Al-Bukhari-Muslim).

Dari Anas bin Malik ia berkata. “Qunut dilakukan dalam shalat Maghrib dan Subuh.” (HR Al-Bukhari).

Dari Al-Bara’ ia berkata, “Rasulullah SAW Qunut dalam shalat Subuh dan Maghrib.” (HR Muslim).

Dianjurkan membaca Qunut Nazilah ketika turun nawazil (musibah, ujian, cobaan). Rasulullah SAW melaksana­kan Qunut ketika turun nawazil dan be­liau melakukan dalam semua shalat far­dhu. Dalam shahih Al-Bukhari diriwayat­kan bahwa Rasulullah SAW Qunut Na­zilah dalam shalat Subuh, Zhuhur, Maghrib, Isya. Sedangkan shalat Ashar terdapat dalam hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud.

Kebanyakan riwayat para sahabat tentang Qunut Nabi SAW, beliau lakukan dalam semua shalat. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa disunnahkan Qunut Nazilah guna mendoakan kebaikan bagi kaum mukmin dan mendoakan kejelek­an atas kaum kafir dalam shalat Subuh dan shalat yang lainnya.

Demikian juga Umar melakukan Qunut ketika memerangi orang-orang Nasrani dengan doa-doa yang di dalam­nya terdapat kata-kata ini, “Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab.” Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa Qunut Nazilah itu dilakukan Nabi SAW pada saat shalat Subuh.

Disunnahkan bagi imam mengeras­kan Qunut Nazilah, dan di­sunnahkan bagi makmum untuk menga­mininya, sebagaimana di­riwayatkan Ibnu Abbas dalam sebuah ha­dits tentang Qunut Nazilah yang diriwa­yatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud.

Disunnahkan pula mengangkat ke­dua tangan dalam Qunut Nazilah. Anas bin Malik berkata, “Aku tidak pernah me­lihat Rasulullah SAW begitu sedih atas sesuatu seperti kesedihannya atas 70 orang Anshar yang dibunuh oleh orang-orang dari Bani Sulaim. Aku telah melihat Rasulullah SAW dalam shalat Subuh mengangkat kedua tangannya, mendoa­kan mereka.” (HR Ahmad).

Abu Rafi juga mengatakan, “Aku sha­lat di belakang Umar bin Khaththab, ia Qunut setelah ruku’ dan mengangkat kedua tangannya serta mengeraskan doanya.” (HR Al-Baihaqi).

Kandungan Qunut

Doa Qunut yang lazim dibaca adalah Allahummahdina fiman hadait. Maksud­nya, “Ya Allah, berikanlah hidayah ke­pada kami seperti (hidayah-Mu) kepada orang-orang yang telah Engkau berikan hidayah.” Hidayah yang sempurna dan ber­manfaat adalah hidayah yang diberi­kan Allah SWT kepada hamba yang dengannya si hamba dapat mema­dukan ilmu dan amal. Hidayah tanpa amal tak berguna, malah memudharat­kan. Sese­orang yang tidak mengamal­kan ilmunya, ilmunya itu malah akan men­jadi bencana atas dirinya

Ada dua pengertian hidayah. Per­tama, memberi pengetahuan, menjelas­kan kebenaran, dan menunjukkan jalan. Dalam makna inilah hidayah yang ter­dapat dalam surah Asy-Syura ayat 52, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” Maknanya, “Kamu benar-benar me­nunjukkan, menjelaskan, dan menga­jari manusia jalan yang lurus.”

Kedua, kemampuan mengarahkan dan melangkahkan kaki orang untuk meng­ikuti petunjuk, kebenaran, ilmu, dan jalan yang lurus. “Sesungguhnya kamu ti­dak akan dapat memberi petun­juk ke­pada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih menge­tahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al-Qashash: 56).

Petunjuk pada ayat di atas adalah hidayah dalam arti kemampuan meng­gerakkan orang lain untuk mengikuti pe­tunjuk. Dalam hal ini Rasulullah SAW tidak mempunyai kemampuan mengen­dalikan atau menggerakkan seseorang untuk beramal shalih. Seandainya beliau memiliki kemampuan untuk memberi hi­dayah, tentu beliau sudah mampu mem­beri hidayah kepada anggota keluarga­nya yang tidak mau mengikuti seruan Islam, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab.

Dalam Qunut, kita memohon diberi hi­dayah, maka hidayah yang kita mohon itu adalah hidayah dalam dua pengertian di atas, yakni hidayah ilmu, dalam arti di­tunjukkan jalan, dan hidayah amal, da­lam arti kemauan dan kemampuan meng­ikuti petunjuk itu. Hidayah dalam dua pengertian itu pula yang kita mohon pada saat membaca ayat “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS Al-Fatihah: 6). Maka siapa pun yang membaca ayat ini hendaknya berkesadaran bahwa yang ia mohon adalah dua pengertian hi­dayah itu, hidayah ilmu dan amal.

Fiman hadait. Penggalan doa ini me­rupakan bentuk tawasul dengan nikmat Allah SWT atas orang-orang yang telah diberi-Nya hidayah.

Wa ‘afina fiman ‘afait. Maksudnya, “Dan berikanlah kesehatan kepada kami seperti (kesehatan) kepada orang-orang yang telah Engkau berikan kesehatan.”

Saat mengucapkan penggalan doa ini hendaklah kita yakin betul bahwa Allah SWT akan memberi kesembuhan bagi berbagai penyakit jasmani dan pe­nyakit hati kita.

Kita dapat dengan mudah mengenali penyakit jasmani; sedangkan penyakit hati, pangkalnya ada dua, hawa nafsu dan kebodohan.

Penyakit hati yang pangkalnya hawa nafsu, seseorang mengetahui kebenar­an tapi ia tidak menginginkannya karena hawa nafsu menguasai dirinya untuk me­nyimpang dari kebenaran. Sedangkan pe­nyakit yang pangkalnya dari kebo­doh­an, seseorang melakukan kebathilan ka­rena menduga itu adalah kebenaran.

Watawallana fiman tawallait. Maksud­­nya, “Dan lindungilah kami seperti (per­lin­­dungan) pada orang-orang yang telah Engkau lindungi.”

Kewalian (wilayah) ada dua macam, khusus dan umum. Kewalian khusus ada­­lah untuk orang-orang beriman. ”Allah pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelap­an (kekafiran) kepada cahaya iman. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelin­dungnya ialah setan, yang mengeluar­kan mereka dari cahaya kepada  kege­lapan. Mereka itu adalah penghuni ne­raka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al-Baqarah: 257).

Kita memohon wilayah khusus yang de­ngannya Allah SWT memberikan per­hatian dan perlindungan terhadap kita serta membimbing kita melakukan apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Sedangkan wilayah umum meliputi se­mua orang, Allah adalah wali bagi se­mua. Firman Allah SWT, “Sehingga apa­bila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia dimatikan oleh malaikat-malaikat Kami, dan ma­lai­kat-malaikat Kami itu tidak melalai­kan­nya.” (QS Al-An’am: 61).

Wa bariklana fima a’thait. “Dan berkahilah kami atas segala yang telah Engkau anugerahkan (kepada kami).” Berkah adalah kebaikan yang banyak dan tetap mengalir. De­ngan doa ini kita memohon ke­pada Allah SWT keberkah­an pada se­mua pemberi­an-Nya. Tanpa keberkah­an, kita akan kehilangan banyak kebaikan.

Wa qina syarra ma qadhait. “Dan hindarkanlah kami dari keburukan atas apa yang telah Engkau tetapkan.” Ke­tetapan Allah SWT yang baik adalah baik, bersifat mutlak, baik pada keteta­p­annya itu sendiri dan baik pula bagi pihak yang menerima ketetapan itu.

Oleh karena itu maksud doa di atas ada­lah memohon perlindungan dari ke­burukan apa yang telah Allah SWT te­tapkan, bukan dari ketetapan itu sendiri. Karena, seperti diketahui, ketetapan Allah pas
tilah baik. “Kebaikan di tangan-Mu dan keburukan bukan kepada-Mu.” (HR Al-Baihaqi).

Innaka taqdhi wala yuqdha ‘alaik. “Sesungguhnya Engkau Maha Menetap­kan dan tiada ketetapan atas-Mu”. Ke­tetapan Allah ada dua macam, ketetapan dalam bidang hukum dan ketetapan da­lam bi­dang penciptaan kesemestaan. Ketetap­an Allah berlaku atas segala se­suatu, ka­rena bagi-Nya kekuasaan dan kepemilik­an sempurna atas segala se­suatu. Tidak ada yang dapat membantah ketetapan-Nya. Karena semua hamba ti­dak memi­liki kekuasaan dan kepemilikan apa pun atas-Nya, semua hamba akan dimintai per­tanggungjawaban, sedang Dia tidak. “Dia tidak ditanya tentang apa yang di­perbuat-Nya, dan merekalah yang di­tanyai.” (QS Al-Anbiya: 23).

(Bersambung)

About Hollyati Nita

Check Also

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Karya-karyanya : Pohon yang Bercabang Banyak

Tersebar ke berbagai Penjuru Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan sa­ngat dikenal kealiman dan kewara‘an­nya, sehingga …