Dahsyatnya Doa Qunut : Keberkahan tiada Henti Mengalir (Bagian 3/Tamat)

Qunut bukan sekadar sebuah doa. Qunut adalah rangkaian doa yang mengandung kedahsyatan. Ia adalah doa yang dipanjatkan saat seseorang rindu akan kasih sayang Allah. Doa tersebut dilantunkan saat seorang hamba mengharap pertolongan Allah. Doa Qunut adalah doa yang disyari’atkan Allah kepada hamba-Nya.

Ketika Allah SWT menjadi pelindung dan penolong bagi seseorang, orang itu tidak akan terhina. Sebaliknya jika Allah SWT membenci seseorang, orang itu tidak akan mulia. Karena itu kita memo­hon kemuliaan kepada Allah dan memo­hon perlindungan kepada-Nya dari ke­hinaan. Seseorang tidak akan terhina jika Allah melindunginya. “Ingatlah, se­sungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (QS Yunus: 62-63).

Wala ya’izzu man ‘adait. “Tidaklah akan beroleh kemuliaan orang-orang yang Engkau musuhi.” Orang yang memusuhi Allah tidak akan mulia. Hidup­nya akan diliputi kehinaan, kerugian, dan kegagalan. Allah SWT berfirman, “Ba­rang siapa menjadi musuh Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah ada­lah musuh orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah: 97).

Orang-orang kafir sesungguhnya ada­lah orang-orang yang hina dan le­mah. “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mere­ka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS Al-Mujadilah: 20).

Orang yang memusuhi Allah SWT adalah hina belaka, kecuali dalam pan­dangan orang yang melihat kemuliaan­nya hanya pada yang dimiliki musuh Allah. Sedangkan bagi orang yang me­mandang bahwa kemuliaan hanya di­dapatkan oleh orang yang setia kepada Allah dan istiqamah di jalan-Nya, di mata­nya musuh-musuh Allah adalah makhluk yang paling hina.

Tabarakta rabbana watalaika. “Mahasuci Engkau, lagi Mahatinggi, wahai Tuhan kami.” Ini merupakan puji­an bagi Allah SWT atas ketabaruk-an-Nya. Kita selalu memuji Allah SWT atas keberkahan-Nya, karena Dia pemberi ke­berkahan, yakni kebaikan yang ba­nyak. Sungguh amat banyak ke­baikan Allah SWT, amat luas, terus-menerus, dan meliputi seluruh segala sesuatu.

Kekhususan Qunut Nazilah

Lalu apa yang terjadi pada pihak yang didoakan kejelekan oleh Rasulullah SAW  dalam doa Qunut Nazilah?

Rasulullah SAW membaca doa se­ba­gai berikut, “Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid bin Al-Walid. Ya Allah, selamat­kan ‘Ayyasy bin Abi Rabiah. Ya Allah, selamatkan kaum tertindas dari kalang­an kaum mukminin. Ya Allah, keraskan adzab-Mu atas Mudhar. Ya Allah, jadi­kan adzab itu bertahun-tahun seperti ma­lapetaka yang menimpa bertahun-tahun pada zaman Nabi Yusuf.”

Dari Anas RA, Nabi SAW didatangi orang-orang Ri’l, Dzakwan, ‘Ushayyah, dan Bani Lahyan. Mereka mengaku te­lah memeluk Islam dan meminta bantu­an Nabi SAW untuk mengajari kaum me­reka. Maka Nabi SAW memberi mereka bantuan berupa 70 orang dari kalangan Anshar. Anas berkata, “Kami menamai mereka 70 orang Anshar itu Al-Qurra’ (para ahli baca Al-Qur’an). Di siang hari mereka mencari kayu bakar dan malam­nya mereka shalat. Bersama mereka (orang-orang Ri’l, Dzakwan, ‘Ushayyah, dan Bani Lahyan), 70 orang Anshar ber­jalan hingga sampai di sumur Ma’unah. Sesampainya di sana mereka mengkhia­nati dan membunuh 70 orang Anshar. Itu­lah sebabnya Rasulullah SAW Qunut Nazilah selama sebulan berdoa untuk mengutuk Ri’l, Dzakwan, Ushayyah, dan Bani Lahyan.” (HR Al-Bukhari).

Seperti yang terlihat, Rasulullah SAW berdoa supaya Allah menurunkan siksa yang keras atas orang-orang Mudhar. Hal ini beliau lakukan guna me­lemahkan mereka, sehingga mereka ti­dak bisa lagi menyakiti dan menindas orang-orang yang lemah dari kalangan kaum muslimin. Siksa yang berat atas orang-orang Mudhar yang dimohon oleh Nabi SAW itu berupa kekeringan, yang lamanya sama dengan kekeringan yang pernah terjadi di zaman Nabi Yusuf, yakni tujuh tahun.

Lalu apakah doa Nabi SAW itu be­nar-benar menimpa orang-orang Mudhar? Dalam kitab al-Nihayah fi Gharib al-Atsar, karya Ibn Al-Atsir, ke­keringan itu benar-benar menimpa orang-orang Mudhar. Mereka ditimpa ke­laparan sampai-sampai mereka me­makan tulang dan ‘ilhiz (campuran darah dan bulu unta lalu dimasak dengan api)

Hikmah Qunut Nazilah

Pertama, dalam Qunut Nazilah kita di­perbolehkan mendoakan kejelekan kaum yang memusuhi dan mengkhianati kaum muslimin. Hal ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang mendoakan ke­jelekan bagi orang-orang Mudhar yang telah membunuh 70 orang Anshar yang beliau utus untuk mengajari agama ke­pada mereka.

Kedua, doa bukan sekadar curahan hati atau pelampiasan kegalauan. Doa adalah keyakinan akan sebuah penca­paian. Hal ini dibuktikan oleh Rasulullah SAW, yang mendokan orang-orang Mudhar agar ditimpa kelaparan dan ke­keringan.

Ketiga, jika sesekali atau sering kali merasa bahwa beberapa doa kita belum juga terkabulkan, tentu hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyalahkan doa lalu meninggalkannya. Kesalahan pasti ada pada kita. Mungkin dosa dan aib kita cukup banyak, sehingga jawaban atas doa-doa kita berupa ditutupinya aib diri dan penghapusan dosa kita. Atau bisa jadi Allah SWT tidak menyegerakan pe­ngabulan doa kita di dunia, melainkan me­nahannya dan menjadikan simpanan yang akan kita dapatkan kelak di akhirat.

Apa pun, terhadap Allah kita tidak bo­leh berprasangka selain kebaikan. Se­jauh yang dapat kita lakukan sebagai makhluk-Nya adalah mengoptimalkan usaha, mengikhlaskan pengabdian, me­murnikan hati, menjernihkan nalar dan pi­kir, mensejatikan penyerahan diri ke­pada-Nya dan mengkhusukan segenap doa kepada-Nya. Totalitas, keikhlasan, kemurnian, kejernihan, kesejatian, dan ke­khusyu’an tidak akan mendatangkan selain keberkahan dan karunia-Nya.

Allah SWT lewat Al-Qur’an dan Nabi SAW lewat sunnahnya menganjurkan, mendorong, dan memotivasi kita untuk berdoa. Itu tidak lain karena doa dapat menggugah hati yang lalai dan mem­bang­kitkan semangat jiwa untuk ber­interaksi secara positif dengan kehidup­an. Doa memudahkan jalan bagi diraih­nya keinginan sepanjang direstui syari’at.

Doa mengembuskan kekuatan jiwa dan spirit ruhani dalam menghadapi ber­bagai tantangan dan kesulitan hidup, ka­rena doa berarti berpegang erat pada ke­kuasaan mutlak dan kekuatan hakiki mi­lik Sang Pemilik hidup dan kehidupan.

Imam Ali pernah menasihati putra­nya, Al-Hasan, perihal doa, “Ketahuilah bah­wa Dzat yang di tangan-Nya perben­daharaan langit dan bumi telah meng­izin­kan bagimu untuk berdoa, telah men­jamin bagimu ijabah, telah memerintah­kan­mu supaya kamu meminta kepada-Nya sehingga Dia memberimu, supaya kamu mengharap kasih sayang-Nya se­hingga Dia mengasihimu.

Dia tidak menjadikan antara kamu dan Dia ada orang yang menghalangi. Dia tidak pernah menyerahkanmu ke­pada orang yang membantu kamu da­tang kepada-Nya. Dia tidak mengha­langi­mu jika kamu berbuat jelek untuk ber­­taubat, tidak menyegerakan siksa atas kamu, tidak menghinakanmu de­ngan dosa, tidak membuatmu putus asa akan rahmat, bahkan Dia menjadikan keter­pu­tusanmu dari dosa-dosa sebagai kebaikan.

Dia menghitung kejelekanmu satu kejelekan saja dan menghitung kebaikan sepuluh kebaikan. Dia telah membuka bagimu pintu pertaubatan. Jika kamu me­manggil-Nya, Dia mendengar pang­gil­anmu. Jika kamu menyeru-Nya dalam kesunyian, Dia tahu seruanmu. Kamu ajukan kepada-Nya kebutuhanmu, kamu ajukan kepada-Nya kegalauanmu, kamu mohon kepada-Nya pertolongan atas urusan-urusanmu, dan kamu meminta-Nya dari perbendaharaan-perbendaha­ra­an rahmat-Nya apa yang tidak mung­kin didapatkan kecuali dari-Nya, yaitu tam­bah umur, kesehatan jasmani, dan ke­lapangan rizqi.<
/p>

Doa merupakan salah satu pintu ter­penting bagi dikabulkannya harapan se­cara cepat bagi orang yang giat bekerja demi meraih ridha-Nya. Doa bukan ber­pangku tangan, mimpi, atau angan-angan. Doa tidak berarti meninggalkan usaha yang sungguh-sungguh dan ber­kelanjutan.

Para nabi dan imam serta orang sha­lih adalah orang-orang yang tidak pernah meninggalkan doa. Namun demikian me­reka adalah orang-orang yang giat be­kerja guna menolak kejelekan dan mendatangkan kebaikan dalam hidup mereka. Kewajiban kita adalah memadu­kan usaha yang lestari dengan doa yang berkelanjutan, sepenuhnya guna kebaik­an kita, dunia dan akhirat.

About Hollyati Nita

Check Also

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Karya-karyanya : Pohon yang Bercabang Banyak

Tersebar ke berbagai Penjuru Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan sa­ngat dikenal kealiman dan kewara‘an­nya, sehingga …