Etiskah Menyebut Hary Tanoe “Cina Kafir”?

Dengan judul “FUI: Hary Tanoe Ogah Dibilang Cina Kafir, Lalu Mau Dibilang Cina Apa?”, sebuah situs antara lain menulis:

Delegasi Forum Umat Islam (FUI) merasa heran dengan sikap pongah CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, yang tak menggubris penolakan umat Islam di Indonesia atas kontes kecantikan Miss World.

FUI pun geram dengan sikap Hary Tanoe yang tetap menggelar Miss World, sehingga melukai perasaan umat Islam.

“Dia ini bisa sepongah itu? Padahal dia Cina kafir. Kalau ini tetap dilaksanakan, ini berarti arogansi yang luar biasa, melukai dan mencederai perasaan umat Islam,” kata Sekjen Front Pembela Islam (FPI), K.H. Ahmad Shabri Lubis, kepada situs tersebut, Selasa (3/9/2013).

Ustadz Shabri Lubis, yang menjadi salah satu delegasi FUI tersebut, mengungkapkan bahwa Hary Tanoe hanya bisa curhat bahwa dirinya sedih dibilang Cina kafir.

“Lalu dia bilang, ‘Saya sedih dibilang Cina kafir’. Jadi ternyata dia tidak mau dibilang Cina kafir, lalu dia maunya dibilang Cina apa?” kata Ustadz Shabri.

Etika Pergaulan

Dalam bergaul, tentu kita tidak hanya berhadapan dengan orang yang satu agama atau satu suku. Kita, yang umat Islam, bisa bergaul dengan non-muslim. Saya, yang orang Jawa, misalnya, bisa juga bergaul dengan orang-orang bersuku lain, termasuk Cina.

Bahwa Hary Tanoe itu orang Cina, apa yang salah dengan kecinaan? Bahwa Hary Tanoe itu orang Cina, apa perlu disebut-sebut?

Bahwa orang yang beragama lain, dalam pandangan Islam, adalah kafir, itu sudah jelas. Namun, ketika bergaul dan kita berhadapan dengan non-muslim lalu katakanlah kita bilang “Kafir lu”, apakah ini etis? Demikian juga, jika kenyataannya Hary Tanoe itu non-muslim, kemudian melalui sebuah publikasikita katakan “Hary Tanoe itu kafir”, etiskah ini?

About Hollyati Nita

Check Also

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Karya-karyanya : Pohon yang Bercabang Banyak

Tersebar ke berbagai Penjuru Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan sa­ngat dikenal kealiman dan kewara‘an­nya, sehingga …