Habib Ali Al-Jufri: Penguasaan Diri dalam Hal Makan dan Tidur (Penguasaan diri seorang Murid)

Segala puji bagi dan hanya milik Allah SWT dengan pujian hamba yang tenggelam  dalam karunia-Nya, kebajik­an-Nya, kemurahannya, dan pemberian-Nya, pujian hamba yang teramat lemah dari menunaikan syukur kepada-Nya atas segala nikmat dan karunia-Nya, pujian hamba yang mengakui dengan segala ke­teledorannya serta buruk dan kejinya segala amal dan keberanian dirinya da­lam berbuat kedurhakaan terhadap-Nya, pujian hamba yang penuh harap ke­pada karunia Allah, kebajikan-Nya, dan juga kemurahan-Nya.

Shalawat serta salam semoga senan­tiasa Allah curahkan dan limpahkan ke­pada penghulu dan junjungan kita, Say­yidina Muhammad, insan paling agung dalam menunjukkan jalan menuju Allah SWT, pintu yang tiada duanya menuju Allah SWT. “Katakanlah, ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan meng­ampuni kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Semoga Allah senantiasa mencurah­kan shalawat, salam, dan keberkahan atas beliau, ahli baytnya, para sahabat­nya, para tabi‘in dan pengikut-pengikut me­reka dalam kebajikan hingga hari Kiamat.

Semoga sejak pelajaran yang lalu kita semua telah memantapkan langkah un­tuk menguasai nafsu kita. Berhadats, engkau kembali mengambil air wudhu. Atau janabah, engkau pun mandi hadats besar untuk menghilangkannya. Engkau telah menguasai hatimu dalam perkara penampilan lahirmu atau engkau sudah berusaha melakukan semua itu dan kini engkau tengah berada di jalan menuju itu semua.

Pada pelajaran kali ini, ada dua pe­nguasaan yang mesti engkau perhatikan dan terapkan dalam keseharianmu, se­hingga keduanya akan dapat menolong dan membantumu dalam pendakianmu kepada derajat yang lebih tinggi dalam perkara ini (meniti jalan menuju Allah SWT). Yakni, pertama, penguasaan diri da­lam hal kesucian lahir. Dan kedua, penguasaan diri dalam perkara mengatur waktu dalam menjalankan aktivitas ke­seharian kita.

Pada pelajaran yang lalu kita telah sama-sama berbicara bahwa penguasa­an diri terhadap kesucian lahir memiliki kaitan yang sangat erat dan tak terpisah­kan dengan penerangan terhadap per­kara-perkara bathin (ruhani). Dan kesuci­an bathin berkaitan erat dengan memi­nimkan makanan, tidur, dan pembicara­an. Namun yang demikian itu, guru-guru kita — semoga Allah memberikan balas­an terindah kepada mereka semua atas segala jasa mereka kepada kita — me­ngatakan, sedikit makan, tidur, dan ber­bicara tidaklah dapat diterapkan dan di­lakukan secara spontan dan tiba-tiba be­gitu saja.

Penguasaan Diri dalam Hal Makan

Penguasaan diri terhadap makanan tidaklah datang secara tiba-tiba atau di­lakukan secara spontan tanpa latihan dan pembiasaan sebelumnya.Tidak mungkin dalam sehari-semalam seseorang dapat mengubah pola makannya menjadi satu suap begitu saja. Rasulullah SAW ber­sabda, “Sesungguhnya agama ini adalah agama yang kokoh, maka masuklah ke dalamnya dengan kelemahlembutan. Karena sesungguhnya perjalanan tanpa henti itu tidak akan pernah menyampai­kan kepada tujuan dan tidak pula mem­buat punggung nyaman karenanya.”

Lalu langkah apa yang harus dilaku­kan agar hal ini berhasil?

Pertama, berlatih untuk melakukan puasa. Pada saat puasa itulah kita ber­usaha untuk sederhana ketika berbuka, mencoba untuk makan dua kali, yakni ketika berbuka dan sahur, dan kita belajar me­nyederhanakan macam-macam ma­kan­an pada keduanya.

Kedua, pada majelis yang lalu kita telah berkata, “Aku akan berhenti makan di saat masih berselera terhadapnya.” Kita meninggalkannya karena Allah SWT.

Ketiga, kita meningkat lagi dalam pem­belajaran ini, yaitu dengan mengu­rangi jumlah atau kuantitas makanan yang kita makan dalam sekali makan. Ke­mudian kita membiasakan diri untuk mengurangi yang kita inginkan dengan cara lebih mengutamakan yang kita tidak berselera terhadapnya daripada yang kita berselera terhadapnya. Demikianlah kait­annya dengan makanan.

Penguasaan Diri dalam Hal Tidur

Berapa jam engkau tidur dari sehari semalam? Mari kita menata segala urus­an kita. Bukankah kita telah mengatakan bahwa kita semua adalah muridul akhirah (pengharap negeri akhirat).

Seorang murid peniti jalan menuju Allah yang tidak tahu berapa lama mesti ia tidur dan berapa lama seharusnya ia jaga, bukanlah ia seorang murid.

Berapa jamkah yang cukup untukmu? Delapan jam? Lebih dari delapan jam, ini sama sekali tidak dapat diterima. Lebih dari delapan jam untuk tidur dari dua pu­luh empatjam tidaklah mungkin diterima bagi seorang muslim awam, terlebih lagi seorang murid peniti jalan menuju Allah SWT.

Akan tetapi, bagi orang yang terbiasa tidak mengatur waktunya, kami katakan, “Mulailah dengan dari delapan jam untuk waktu tidur.” Adapun yang sudah ter­biasa, mulailah dari enam jam, niscaya itu sudah cukup baginya. Namun, bila eng­kau tidak mampu untuk melakukan­nya, mulailah dari delapan jam, kemudian se­telah itu kurangi seperempat jam.

Setelah satu bulan berlalu dan eng­kau kuasai dirimu dengan delapan jam waktu untuk tidur ini maknanya bahwa engkau telah membiasakan tubuhmu un­tuk cukup dengan delapan jam untuk wak­tu tidur. Maknanya, engkau telah memiliki kemampuan tidur tidak melebihi waktu yang ditentukan. Karena melebihi dari kadar tertentu yang telah ditentukan untuk tidur akan menimbulkan kelemahan pada jiwa. Karenanya jiwa pun akan men­jadi lemah, dan lahirlah malas, enggan, tidak bersemangat, dan terus semakin lemah semangatnya.

Jangan pernah ada delapan jam se­tengah atau delapan jam seperempat ber­lalu dari dirimu dalam satu bulan itu sam­pai melekat keteraturan itu pada diri­mu dan nafsumu menjadi terbiasa de­ngan­nya. Setelah itu, kurangi lagi sepe­rempat jam.

Saat ini engkau adalah seorang yang terikat dan teratur dengan waktu. Bagimu sudah ada perbedaan antara tidur se­tengah jam dan seperempat jam. Sebe­lum itu, mungkin engkau tidur setengah jam atau seperempat jam melebihi kadar tertentu tidak ada masalah. Akan tetapi sekarang tidak demikian halnya. Seka­rang engkau adalah seorang peniti jalan menuju Allah SWT. Seperempat jam ter­amat berharga untukmu. Karenanya ku­rangilah seperempat jam dari waktu ti­durmu. Demikian seterusnya hinga di­kurangi seperempat jam yang kedua, ke­tiga, dan seterusnya hingga sampai ke­pada enam jam. Ketahuilah, pertengah­an tidur bagi seorang salik adalah enam jam. Dan bila engkau memiliki semangat yang lebih tinggi lagi setelah terbiasa de­ngan itu, boleh juga engkau kurangi lagi seperempat jam.

Perhatikan! Seperempat jam yang eng­kau kurangi ini dan seperempat jam be­rikutnya hingga sampai kepada enam jam haruslah disertai pula dengan hari yang tertata. Dalam arti bahwa seperem­pat jam yang engkau kurangi dari waktu tidurmu itu haruslah engkau pergunakan un­tuk kegiatan berharga untuk mengisi­nya, dan jangan engkau isi dengan ke­bingungan atau kesia-siaan membuang-buang waktu percuma.

Sebagian anak muda berkata, “Mari kita pergi menghabiskan waktu!”

Sesungguhnya engkau tidaklah di­ciptakan untuk membuang dan mengha­bis-habiskan waktu. Sesungguhnya eng­kau diciptakan untuk meraih keberun­tungan kekayaan waktu. Seorang murid akan merasa napasnya bernilai apabila napasnya berlalu dalam dzikir, dakwah kepada Allah S
WT, atau memberikan manfaat lain bagi hamba-hamba Allah SWT.

Bila engkau dapat memenuhi aktivitas di siang hari dengan perbuatan-perbuat­an yang semestinya, niscaya engkau akan dapat menata waktu-waktu tidurmu. Akan tetapi bila engkau biarkan waktu jagamu terbuang begitu saja, sudah ba­rang tentu engkau tidak akan pernah da­pat menata tidurmu selama-lamanya. An­tara keduanya terdapat hubungan, kese­imbangan, dan saling menyempurnakan. Di saat engkau menata waktu jagamu, niscaya engkau akan merasa butuh untuk menyedikitkan waktu tidurmu. Dari sana terciptalah penguasaan diri dalam hal menyedikitkan tidur.

Perhatikan baik-baik! Jangan engkau beranjak dengan semangat yang meng­gebu-gebu kemudian engkau putuskan bahwa mulai malam ini engkau akan mengurangi waktu tidurmu dari sepuluh jam menjadi dua jam, misalnya. Perkara suluk ini tidaklah demikian adanya, me­lainkan semuanya dilakukan dengan ber­tahap dan perlahan. 

About Hollyati Nita

Check Also

Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan Karya-karyanya : Pohon yang Bercabang Banyak

Tersebar ke berbagai Penjuru Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan sa­ngat dikenal kealiman dan kewara‘an­nya, sehingga …